Bahagia Mencintai Allah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3883
Selasa, 15 Sya'ban 1447

Bahagia Mencintai Allah
Saudaraku, setelah lisan kita dibiasakan untuk ringan berselawat, menyebut nama Nabi Muhammad saw dengan doa, cinta dan takdhim, maka muhasabah hari ini sampai pada muara terdalam dari seluruh amal yakni mencintai Allah. Sebab selawat sejatinya bukan tujuan akhir, melainkan jembatan cinta. Kita mencintai Nabi karena beliau yang paling mencintai Allah dan paling sempurna menuntun manusia menuju-Nya. Meneladani Nabi di bulan Sya‘ban, pada akhirnya, adalah belajar mencintai Allah dengan segenap kesempurnaanNya.

Cinta kepada Allah bukan sekadar perasaan yang menggetarkan dada, tetapi kesadaran yang menuntun seluruh laku hidup. Ia hadir dalam niat yang lurus, ibadah yang tekun, akhlak yang baik, dan kesetiaan pada jalan ketaatan. Nabi Muhammad saw adalah teladan tertinggi cinta ini. Seluruh hidup beliau adalah tafsir nyata dari firman Allah: “Katakanlah (wahai Muhammad), jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Ya, mencintai Allah tidak bisa dilepaskan dari mengikuti Nabi. Begitu titah Allah menuntun kita. Di bulan Sya‘ban, ketika Nabi memperbanyak puasa, amal, dan doa, sesungguhnya beliau sedang menunjukkan bagaimana cinta itu dirawat dengan istikamah dan kesungguhan sebelum Ramadhan, dengan kesiapan sebelum perjumpaan agung.

Malam dan hari ini, adalah malam dan hari Nisfu Sya‘ban dimana cinta itu seakan diberi panggung semesta. Lihatlah semalam ia hadir di tengah puncak purnama, ketika cahaya bulan mencapai kesempurnaannya. Para ulama sering mengisyaratkan: sebagaimana purnama memantulkan cahaya matahari secara sesempurna cahayanya, demikian pula hati hamba di malam dan hari ini, tentu diharapkan mampu menangkap seraya memantulkan cahaya cinta Ilahi secara lebih sempurna.

Nisfu Sya‘ban bukan sekadar penanda waktu, tetapi undangan penghambaan. Di malam ini, kita diajak menengok kembali hubungan kita dengan Allah: apakah cinta kita masih bercabang oleh kepentingan dunia,
atau mulai utuh, jujur, dan total tertuju kepada Allah Rabbuna?

Rasulullah saw bersabda tentang keutamaan malam nisfu Sya'ban: “Allah melihat kepada seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya‘ban, lalu Dia mengampuni semua hamba-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah)

Ya, mencintai Allah di malam dan hari ini bukan hanya dengan doa dan munajat, tetapi juga dengan membersihkan hati: dari syirik meski halus, dari dendam, dari kebencian, dari kesombongan, dari ego yang ingin dipuja. Cinta kepada Allah menuntut ruang yang lapang di dalam hati dan Sya‘ban adalah bulan membersihkan ruang itu.

Saudaraku, jika selawat adalah bahasa cinta kepada Nabi, maka ketaatan totalitas adalah bukti cinta kepada Allah. Jika Nabi adalah jalan, maka Allah adalah tujuan. Dan di bawah cahaya purnama Nisfu Sya‘ban ini, kita berdoa agar cinta kita tidak berhenti pada kata, tetapi menjelma menjadi kepribadian yang hidup.

Bahagia mencintai Allah karena cinta inilah yang menenangkan saat dunia chaos, menguatkan saat amal terasa berat, dan menerangi jalan menuju Ramadhan sebagai hamba yang rindu. Kita berdoa semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang dicintai-Nya, karena telah belajar mencintai-Nya melalui teladan Nabi terutama di bulan Sya‘ban yang penuh cahaya ini. Aamiin.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama