Bahagia MenaatiNya

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3887
Sabtu, 19 Sya'ban 1447

Bahagia MenaatiNya
Ssudaraku, setelah berikhtiar mengingat-Nya, lisan pun diringankan menyebut-Nya, maka lanjutan muhasabah hari ini adalah bahagia ketika mampu menaati titah-Nya. Sebab cinta sejati tidak berhenti pada ingatan dan ucapan; ia menuntut pembuktian dalam sikap dan perbuatan. Di sinilah ketaatan menemukan maknanya yang paling nyata.

Dalam konteks meneladani Nabi di bulan Sya‘ban ini, kita melihat dengan jelas bahwa beliau adalah manusia yang paling sempurna dalam cinta kepada Allah dan ketaataan. Dzikir beliau berbuah amal, dan amal beliau sepenuhnya tunduk pada perintah Allah. Tidak ada jarak antara apa yang diingat, disebut, dan dilakukan. Sya‘ban menjadi bulan penguat kesinambungan itu, bulan ketika ketaatan dipersiapkan agar di bulan Ramadhan ia hadir dengan penuh kesadaran, bukan sekadar rutinitas. Allah berfirman: “Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Ayat ini menegaskan bahwa ketaatan adalah bukti cinta, dan mengikuti Rasulullah saw adalah jalannya. Maka bahagia menaati titah-Nya bukanlah bahagia yang lahir dari keterpaksaan, tetapi dari kesadaran bahwa setiap perintah Allah sejatinya adalah jalan kebaikan bagi hamba.

Di bulan Sya‘ban, Nabi memperbanyak puasa, menjaga shalat malam, memperindah ibadah, dan menata amal dengan penuh kesungguhan. Semua ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan ekspresi ketaatan yang lahir dari cinta. Ketaatan yang tidak gaduh, tidak pamer, tetapi konsisten dan jujur.

Menaati titah-Nya dapat kita lakukan dari hal-hal yang praktis, seperti disiplin menunaikan shalat tepat waktu, menahan diri dari yang diharamkan, menunaikan amanah meski tidak diawasi, memilih yang halal meski yang haram tampak mudah, dan tetap taat meski keadaan tidak ideal. Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (HR. al-Baihaqi)

Saudaraku, di bulan Sya‘ban ini kita sedang dilatih untuk menundukkan kehendak diri di hadapan kehendak Ilahi. Dari mengingat-Nya, menyebut-Nya, hingga menaati-Nya, semuanya adalah satu rangkaian cinta yang utuh, yang tulus. Ketaatan yang dibangun sejak Sya‘ban akan membuat Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi bulan perjumpaan yang mesra antara hamba dan Rabb-nya. Bahagia mengingat-Nya menenangkan hati. Bahagia menyebut-Nya memuliakan lisan. Dan bahagia menaati titah-Nya memuliakan seluruh kehidupan.

Inilah bahagia yang tidak meluap-luap, tetapi amat terasa. Bahagia seorang hamba yang sadar bahwa setiap titah Allah bukan beban, melainkan jalan pulang menuju ridha-Nya. Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama