Bahagia Ringan Berselawat

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3881
Ahad, 13 Sya'ban 1447

Bahagia Ringan Berselawat
Saudaraku, setelah kita berikhtiar menjaga lisan, menahan kata agar tidak melukai dan mengarahkannya hanya pada kebaikan, maka di antara amal lisan yang justru dianjurkan untuk diperbanyak di bulan Sya‘ban adalah berselawat kepada Nabi. Jika lisan harus dijaga dari yang menyakiti, maka ia perlu diganti dan dihiasi dengan yang memberkahi, yang memberikan syafaat.  Di sinilah selawat menemukan tempatnya,  ringan di lisan, dalam di makna, luas di dampaknya.

Tidak berlebihan jika para ulama menyebut bahwa Sya‘ban sebagai bulan Nabi. Rajab sering disebut bulan Allah, bulan pengagungan pada Allah; Ramadhan adalah bulan umat sebagai bulan perjuangan, pengendalian diri, dan panen pahala; sementara Sya‘ban berada di tengah-tengahnya sebagai persiapan ruhani dengan merajut cinta sunah agar kedekatan dengan Rasulullah nyata. Di bulan inilah Nabi memperbanyak amal, dan umatnya diajak memperbanyak cinta.

Selawat adalah bahasa cinta itu. Ia bukan sekadar rangkaian lafaz, melainkan pengakuan batin bahwa kita berutang bimbingan kepada Nabi: melalui beliau kita mengenal iman, ibadah, akhlak, dan arah hidup. Maka wajar jika Allah sendiri memuliakan selawat dan memerintahkannya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Perintah ini terasa sangat hidup di bulan Sya‘ban. Setelah hati dibersihkan dengan istighfar, dosa dilebur dengan saling memaafkan, harta disucikan dengan berbagi, dan lisan dijaga dari yang menyakiti, kini lisan diarahkan untuk menghidupkan selawat. Seakan Sya‘ban berkata kepada kita: jika engkau ingin menyambut Ramadhan dengan cahaya, dekatilah sumber cahaya itu Rasulullah.

Berselawat itu ringan, karena bisa dilakukan kapan saja: saat duduk, saat berjalan, bekerja, menunggu, kapan saja bahkan saat lelah. Namun ia berat dalam timbangan, sebab setiap satu selawat dibalas sepuluh rahmat dari Allah. Nabi  bersabda: “Barang siapa berselawat kepadaku satu kali, maka Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Selawat juga menyambung kesinambungan muhasabah kita. Jika sebelumnya kita menjaga lisan agar tidak melukai manusia, maka dengan selawat kita menjaga lisan agar terhubung dengan langit. Jika sebelumnya kita meneladani Nabi dalam akhlak dan amal, maka dengan selawat kita meneladaninya dalam cinta dan penghormatan.

Saudaraku, bahagia itu kadang bukan pada amal yang berat, tetapi pada amal yang konsisten. Selawat mengajarkan konsistensi cinta. Ia menenangkan hati, melembutkan sikap, dan perlahan membentuk akhlak. Semakin ringan lisan berselawat, semakin dekat jiwa dengan teladan Nabi. Semoga di bulan Sya‘ban ini, selawat menjadi napas harian kita, menjadi ringan diucap, dalam dirasa, dan nyata dampaknya. Karena mencintai Nabi bukan hanya dengan kisah, tetapi dengan selawat yang terus mengalir, hingga kita pantas menyambut Ramadhan sebagai umat yang rindu pada Nabi dan Ilahi. Aamiin.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama