Bahagia MenyebutNya

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3886
Jumat, 18 Sya'ban 1447

Bahagia MenyebutNya
Saudaraku, setelah hati dibiasakan untuk mengingat Allah, muhasabah berikutnya adalah bahagia ketika lisan menjadi ringan menyebut asmaNya. Sebab apa yang gemuruh di dalam hati, niscaya mencari jalan keluar melalui lisan. Ingatan yang menetap akan menjelma dalam sebutan yang berulang. Inilah salah satu bukti cinta yang paling nyata, cinta yang tidak berhenti di hati, tetapi dihayati, diikrarkan terdengar dalam ucapan.

Meneladani Nabi di bulan Sya‘ban, kita belajar bahwa beliau bukan hanya banyak beramal, tetapi juga senantiasa membasahi lisannya dengan dzikir. Aisyah r.a. telah menegaskan bahwa Rasulullah saw berdzikir dalam setiap waktu; dan dzikir itu tentu bukan sekadar ingatan sunyi, melainkan sebutan yang mengalir: tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, dan shalawat. Karena itu, setelah bahagia mengingat-Nya, kebahagiaan berikutnya adalah ketika lisan ringan menyebut-Nya tanpa beban, tanpa paksaan, bahkan dengan cinta.

Mengingat dan menyebut asmaNya dapat dilakukan mengiringi aktivitas kita. Saat duduk, atau berbaring beristirahat lisan tetap berzikir. Saat berdiri bekerja atau memasak, dzikir tidak tertinggal. Saat berjalan atau berkendara, nama Allah menjadi teman perjalanan.

Lisan yang terbiasa menyebut Allah tidak mudah tergelincir pada keluh kesah, apalagi cacian atau kata yang melukai. Ia telah memiliki kesibukan yang mulia, sehingga enggan mengotori dirinya dengan ucapan sia-sia. Allah berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring…”(QS. Ali ‘Imran: 191)

Ayat ini seolah melukiskan keseharian seorang hamba yang hidupnya dilingkupi dzikir, bukan hanya pada waktu-waktu tertentu, tetapi dalam ritme hidup yang nyata. Inilah gambaran hamba yang sedang menapaki Sya‘ban dengan kesadaran, mempersiapkan diri menyambut Ramadhan. Rasulullah saw bersabda: “Ucapan yang paling dicintai Allah ada empat: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, dan Allahu Akbar.” (HR. Muslim)

Ringannya lisan menyebut Allah bukan karena hafalannya, melainkan karena kedekatan hatinya. Jika hati jauh, lisan terasa berat. Jika hati dekat, lisan mengalir dengan sendirinya.

Saudaraku, bulan Sya‘ban adalah bulan melatih kebiasaan batin dan lisan. Jika di Sya‘ban lisan telah ringan menyebut-Nya, maka di Ramadhan dzikir akan terasa lebih dalam, lebih hidup, dan lebih bermakna. Dan yang pasti keberkahan pahalanya tiada tara. Bahagia mengingat-Nya menenangkan hati.
Bahagia menyebut-Nya memuliakan lisan. Dan ketika hati serta lisan telah selaras dalam dzikir, itulah tanda bahwa cinta kepada Allah tidak lagi sekadar harapan, tetapi telah menjadi napas kehidupan napas seorang hamba yang sedang menapaki jalan menuju Ramadhan dengan penuh kesiapan. Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama