Bahagia Menjaga Lisan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3880
Sabtu, 12 Sya'ban 1447

Bahagia Menjaga Lisan
Saudaraku, setelah hati dilatih untuk suka berbagi di bulan Sya‘ban dengan meluaskan empati, menebar kebaikan, dan berniaga dengan Allah, maka ada satu penjagaan yang tak kalah penting agar kebaikan itu tidak hilang di tengah jalan yakni menjaga lisan. Sebab sering kali amal yang besar bisa gugur bukan karena kurangnya ibadah, melainkan karena kelalaian lidah.

Lisan adalah anugerah yang lembut namun berdaya dahsyat. Dengannya, banyak orang menjadi mulia karena lisannya digunakan untuk menyebut nama Allah, menyampaikan kebenaran, mengajak kepada yang ma‘ruf, dan mencegah dari yang munkar. Lisan yang terjaga mampu mengangkat derajat, menenangkan jiwa, dan menyambung persaudaraan. Ia menjadi jembatan cahaya, menebar kebaikan.

Namun, saudaraku, lisan yang sama juga bisa menyeret pemiliknya ke jurang kenistaan. Bukan karena lisannya tidak fasih, tetapi karena tidak dijaga. Kata-kata yang tergesa, status yang dilontarkan tanpa empati, komentar yang menyudutkan, candaan yang merendahkan, semuanya bisa melukai hati, merusak suasana, bahkan memutus silaturahim. Di sinilah kita belajar bahwa dosa lisan sering terasa ringan di mulut, tetapi berat di sisi Allah.

Nabi Muhammad saw teladan agung yang kita ikuti, terlebih di bulan Sya‘ban, menunjukkan kehati-hatian luar biasa dalam bertutur. Beliau berbicara jika ada maslahat, dan memilih diam jika kata-kata berpotensi sia-sia apalagi menyakiti. Sabda beliau sangat tegas namun menyejukkan: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah akhlak lisan seorang mukmin. Di bulan Sya‘ban, ketika amal-amal diangkat dilaporkan kepada Allah, menjaga lisan menjadi bagian dari pembersihan catatan. Sebab betapa banyak ibadah yang tampak indah, tetapi tercoret oleh ucapan nya sendiri yang tidak perlu. Menjaga lisan adalah cara halus untuk memastikan bahwa berbagi, beramal, dan beribadah tetap utuh nilainya.

Menjaga lisan juga berarti menyelaraskan isi hati dengan bunyi kata bahkan tindakan nyata. Hati yang telah dilembutkan oleh istighfar dan sedekah semestinya melahirkan tutur yang meneduhkan. Jika hati bersih, lisan terjaga, tak mungkin menyakiti. Jika lisan terjaga, suasana pun damai. Inilah kesinambungan muhasabah kita: dari membersihkan dosa, memperluas berbagi, hingga menata kata. Ini merupakan energi yang ditangkap semesta, vibrasi kebaikannya bisa melampaui.

Sya‘ban mengajarkan kita untuk berlatih, sebelum Ramadhan datang dan menuntut kualitas lebih tinggi. Kita melatih diri untuk tidak reaktif, tidak mudah berkomentar atau membuat status yang melukai lewat kata. Maka kita pun pilih kata yang jujur, lembut, dan membawa maslahat. Kita tahan lisan dari ghibah, fitnah, dan ujaran kebencian yang justru mengeraskan suasana.

Saudaraku, bahagia itu bukan hanya soal apa yang kita lakukan, tetapi juga apa yang kita tahan. Menjaga lisan adalah menahan diri demi kemuliaan. Semoga Allah menuntun lidah kita agar hanya bergerak dalam kebaikan, dan menjadikan bulan Sya‘ban ini sebagai madrasah sunyi yang mendewasakan tutur dan memuliakan akhlak kita, sebagaimana teladan Nabi Muhammad saw.. Aamiin.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama