Bahagia Menghargai Waktu

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3882
Senin, 14 Sya'ban 1447

Bahagia Menghargai Waktu
Saudaraku, setelah lisan kita latih untuk terjaga agar kata-kata tidak melukai dan pahala amal tidak hilang, maka muhasabah berikutnya mengajak kita melangkah lebih dalam yakni menghargai waktu memanfaatkannya dengan baik. Sebab lisan yang baik membutuhkan waktu yang terarah, dan amal yang berkualitas lahir dari pengelolaan waktu yang efektif. Di bulan Sya‘ban, teladan Nabi dalam manajemen waktu tampak begitu nyata dan relevan.

Sya‘ban adalah bulan yang sering “terlewat” di antara Rajab dan Ramadhan. Banyak orang lengah, padahal justru di bulan inilah Nabi memperbanyak amal, terutama puasa. Ketika ditanya mengapa beliau banyak berpuasa di Sya‘ban, Nabi bersabda: “Itu adalah bulan yang banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan diangkatnya amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” (HR. an-Nasa’i)

Hadis ini bukan hanya bicara tentang puasa, tetapi tentang kesadaran waktu. Nabi Muhammad saw bijak membaca momentum. Kita dituntun untuk tidak menunggu Ramadhan baru serius beribadah, sehingga menjadikan Sya‘ban sebagai bulan sia-sia. Inilah manajemen waktu seorang hamba: menempatkan setiap bulan, setiap hari, bahkan setiap detik pada nilai dan fungsinya untuk mengabdi pasa Ilahi.

Manajemen waktu bukan sekadar membuat jadwal padat, tetapi memilih prioritas dengan niat yang lurus. Nabi mengajarkan keseimbangan: ada waktu untuk ibadah, ada waktu untuk keluarga, ada waktu untuk umat. Tidak tergesa-gesa, tetapi juga tidak menunda. Waktu dijalani dengan tenang, penuh makna, dan terarah.

Dalam konteks muhasabah kita sebelumnya, menjaga lisan menuntut waktu untuk berpikir sebelum berbicara. Maka manajemen waktu membantu kita memberi jeda—jeda untuk merenung, jeda untuk menimbang, jeda untuk memilih kata yang baik atau diam. Orang yang mengelola waktunya dengan baik, biasanya tidak reaktif dan tidak tergesa menyakiti.

Sya‘ban melatih kita untuk mengisi waktu dengan amal persiapan. Misalnya, waktu pagi dengan dzikir dan tilawah, waktu siang dengan amanah dan kerja yang jujur, waktu sore dengan keluarga dan kepedulian, dan waktu malam dengan istighfar dan doa. Trntu, bukan karena semuanya harus sempurna, tetapi karena waktu tidak dibiarkan kosong tanpa makna.

Saudaraku, waktu adalah modal hidup abugrah Allah yang paling adil: setiap orang mendapat jatah yang sama, tetapi hasilnya berbeda. Nabi mengingatkan: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Bahagia memiliki manajemen waktu berarti tidak tertipu oleh kelengahan. Kita belajar memuliakan waktu sebagaimana memuliakan ibadah. Di bulan Sya‘ban ini, kita berlatih agar Ramadhan kelak tidak datang secara tiba-tiba, melainkan disambut oleh jiwa yang siap, lisan yang terjaga, dan waktu yang tertata.

Semoga Allah memberkahi waktu kita, menolong kita meneladani Nabi dalam mengelola hari-hari, dan menjadikan setiap detik bernilai ibadah. Karena pada akhirnya, hidup yang terkelola dengan baik adalah hidup yang paling dekat dengan ridha-Nya. Aamiin.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama