Bahagia Mendidik Kesabaran

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Tahun Ke-12 Harian Ke-3902
Ahad 5 Ramadhan 1447

Bahagia Mendidik Kesabaran
Saudaraku, Ramadhan yang kita jalani merupakan madrasah agung yang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mendidik jiwa agar berlapang dada dalam menghadapi segala keadaan. Setelah kita belajar mendidik hati, rasa, akal, dan fisik, maka sampailah kita pada satu pilar penting yang menjadi penyangga semuanya, mendidik kesabaran. Tanpa sabar, semua pendidikan itu mudah goyah; dengan sabar, semua menjadi kokoh dan bernilai di sisi Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Ayat ini bukan sekadar anjuran, tetapi penegasan bahwa sabar adalah jalan mendapatkan pertolongan Allah. Bahkan dalam ayat lain ditegaskan: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Betapa agungnya sabar, hingga ganjarannya tidak dibatasi, tidak diukur, dan tidak dihitung. Ia langsung diberikan oleh Allah sesuai dengan kebesaran-Nya. Rasulullah saw juga bersabda: “Puasa itu adalah setengah dari kesabaran.” (HR. Tirmidzi) Dan dalam riwayat lain: “Sabar itu cahaya.” (HR. Muslim)

Ya, Ramadhan sejatinya adalah ruang untuk melatih sabar dalam tiga dimensi kehidupan: sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menghadapi ujian. Ketika kita berpuasa, kita sedang belajar sabar menahan diri dari yang halal; maka seharusnya kita lebih mampu menahan diri dari yang haram. Namun sabar bukanlah diam tanpa makna, melainkan keteguhan hati dalam ketaatan, ketenangan dalam ujian, dan keikhlasan dalam menerima takdir. Sabar bukan kelemahan, tetapi kekuatan yang terjaga.

Dalam praktiknya, pendidikan sabar di bulan Ramadhan dapat kita wujudkan secara nyata: Pertama, sabar dalam ibadah. Menjaga shalat fardhu di awal waktu secara berjamaah, menjalani puasa di siang hari, melaksanakan tarawih, tilawah Al-Qur’an, dzikir dan doa.  Kedua, sabar dalam menahan emosi. Saat lapar dan haus seringkali emosi mudah tersulut. Namun justru di situlah latihan sabar yang sebenarnya. Menahan marah, tidak membalas ucapan buruk, bahkan memilih diam adalah bentuk kemenangan jiwa. Ketiga, sabar dalam menghadapi kondisi hidup. Tidak semua orang menjalani Ramadhan dengan kelapangan. Ada yang dalam kesulitan ekonomi, ada yang dalam sakit, ada yang sedang menghadapi ujian keluarga, ada yang hidup di tenda-tenda pengungsian. Namun Ramadhan mengajarkan: tetap tenang, tetap berharap, tetap yakin bahwa pertolongan Allah dekat. Keempat, sabar dalam konsistensi melakukan kebaikan. Seringkali kita semangat di awal Ramadhan, lalu melemah di pertengahan. Maka sabar di sini adalah menjaga ritme, menjaga semangat, menjaga keistiqamahan hingga akhir.

Saudaraku, kesabaran itu seperti akar yang tak terlihat, tetapi menopang pohon kehidupan agar tetap tegak meski diterpa angin ujian. Tanpa sabar, amal menjadi rapuh. Dengan sabar, amal menjadi indah dan bernilai. Maka berbahagialah orang yang menjadikan Ramadhan sebagai sarana mendidik kesabaran. Karena sejatinya, bukan lapar dan haus yang ingin dicapai, tetapi jiwa yang matang, hati yang tenang, dan iman yang kokoh.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sabar, yang kuat dalam ujian, yang istiqamah dalam kebaikan, dan yang kelak mendapatkan balasan tanpa batas dari-Nya. Aamiin.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama