Bahagia Mendidik Akal

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3900
Jumat, 3 Ramadhan 1447

Bahagia Mendidik Akal 
Saudaraku, di samping jiwa dan rasa, Ramadhan juga momentum agung untuk mendidik akal. Ini sangat penting karena akal merupakan anugerah Allah yang menjadi pembeda utama antara manusia dan makhluk lainnya. Akal bukan hanya alat berpikir, tetapi jembatan menuju kesadaran, yang dengannya manusia mampu mengenal Tuhannya, memahami ayat-ayat-Nya, dan menimbang jalan hidupnya. Mskanya orang yang berpuasa itu memiliki kecerdasan intelektual religius yang tinggi.

Dalam suasana Ramadhan, ketika tubuh ditahan dari syahwat dan jiwa dilatih dengan kesabaran, akal justru menemukan kejernihannya. Ia tidak lagi disibukkan oleh hiruk-pikuk dunia, mau makan dengan siapa dan ngopi di mana, tetapi mulai diarahkan kepada perenungan makna hidup yang hakiki. Allah berfirman: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.”(QS. Ar-Ra’d: 3)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa berpikir adalah ibadah. Akal yang digunakan untuk merenungi ciptaan Allah akan mengantarkan manusia pada keyakinan yang lebih kokoh. Ramadhan menjadi ruang terbaik untuk mengaktifkan akal dalam dimensi spiritual, bukan sekadar logika duniawi. Rasulullah saw juga bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)

Kecerdasan dalam perspektif Islam bukan hanya soal kemampuan intelektual, tetapi kemampuan mengarahkan akal untuk tujuan akhirat. Maka Ramadhan adalah madrasah yang melatih kecerdasan ini, kecerdasan yang menuntun pada kebijaksanaan dan kesadaran akan tanggung jawab hidup.

Secara praktis, mendidik akal di bulan Ramadhan dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk: pertama, membiasakan tafakkur wa tadabbur Al-Qur’an. Tidak sekadar membaca, tetapi juga memahami makna, menggali hikmah, dan menghubungkannya dengan realitas kehidupan. Satu ayat yang direnungi dengan sungguh-sungguh bisa lebih membekas daripada banyak ayat yang dibaca tanpa pemahaman.

Kedua, menghidupkan tradisi berpikir sebelum bertindak. Ramadhan mengajarkan jeda, tidak tergesa-gesa, tidak reaktif. Saat lapar dan haus, kita belajar menahan diri, dan di situlah akal dilatih untuk mengambil alih kendali.

Ketiga, memperbanyak majelis ilmu. Mendengarkan tausiyah, membaca buku, atau berdiskusi tentang nilai-nilai keislaman akan memperkaya wawasan dan menajamkan cara pandang. Akal yang terdidik akan lebih mudah menerima kebenaran.

Keempat, melakukan muhasabah harian. Menilai diri sendiri: apa yang telah dilakukan, apa yang perlu diperbaiki, dan ke mana arah hidup ini akan dibawa. Ini adalah bentuk kerja akal yang paling jujur. berdialog dengan diri di hadapan Allah.

Pada akhirnya, Ramadhan mengajarkan bahwa akal bukan untuk kesombongan, tetapi untuk ketundukan. Semakin seseorang menggunakan akalnya dengan benar, semakin ia menyadari keterbatasannya, dan semakin ia tunduk kepada kebesaran Allah.

Bahagia menjadikan Ramadhan sebagai wahana mendidik akal adalah ketika kita merasakan bahwa setiap ibadah bukan hanya menggerakkan tubuh, tetapi juga mencerahkan pikiran. Dari akal yang jernih lahir hati yang tunduk, dan dari hati yang tunduk lahir amal yang lurus. Di situlah Ramadhan menjadi cahaya, menerangi akal, menenangkan jiwa, dan menuntun langkah menuju Allah.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama