Bahagia Mendidik Rasa

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3899
Kamis 2 Ramadhan 1447

Bahagia Mendidik Rasa
Saudaraku, Ramadhan bukan hanya mendidik hati dalam makna spiritual yang tinggi, tetapi juga mendidik rasa, kepekaan batin, empati juga simpati sosial, dan kelembutan jiwa. Jika hati adalah pusat kesadaran, maka rasa adalah getarannya. Dan Ramadhan hadir untuk menghaluskan getaran itu.

Barangkali ada di antara manusia yang hidup di dunia masih dengan perasaan yang relatif tumpul. Melihat kemiskinan tanpa tergerak,  mendengar musibah dan penderitaan sesama tanpa rasa iba, dan mendengar nasihat tak tersentuh. Bahkan saat melakukan ibadah pun tanpa menghadirkan rasa apa-apa. Allah berfirman: “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj 46) Makanya Ramadhan datang sebagai bulan yang melembutkan jiwa, agar lebih peka, lebih sensitif atas sesama. Tuntunan Allah dalam ayat ini mengisyaratkan bahwa kebutaan sejati adalah kebutaan rasa. Hati yang tidak lagi peka. Dan puasa adalah terapi untuk menghidupkan kembali rasa itu.

Ya, di antara ibadah utama pada bulan Ramadhan adalah berpuasa, yang dengannya dapat melatih kepekaan rasa. Saat kita lapar, kita belajar merasakan apa yang selama ini dirasakan oleh saudara-saudara kita yang papa dan yang kekurangan. Saat kita menahan dahaga, kita belajar memahami arti seteguk air. Saat kita menahan amarah, kita belajar mengelola emosi. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh pada puasanya yang sekadar meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari). Hadits ini menegaskan bahwa esensi puasa bukan pada fisik yang harus menahan diri dari makan minum, tetapi pada sisi dalam, pada pembinaan rasa, ya rasa malu bila malas, malu bila tidak disiplin, malu berdusta, rasa takut untuk menyakiti, rasa sadar bahwa Allah selalu mengawasi.

Dan tentu Ramadhan juga mendidik kita agar lebih peka terhadap dosa, peka terhadap penderitaan orang lain, peka terhadap waktu yang terus berlalu, peka terhadap nikmat yang tidak disyukuri.

Perasaan yang ditempa dengan puasa melahirkan empati. Dari rasa lapar dan dahaga tumbuh kepedulian. Dari rasa lemah tumbuh solidaritas. Allah swt berfirman: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan (seraya berkata), ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharap wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.’” (QS. Al-Insan: 8–9). Inilah pendidikan rasa yang sejati: memberi karena Allah, bukan karena ingin dipuja sesama.

Di antara percikan pendidikan rasa yang ditempa pada Bulan Ramadhan adalah melatih empati melalui sedekah. Tentu tidak harus besar, tidak harus banyak, yang penting ikhlas istikamah. Kita berikan sebagian uang atau makanan berbuka untuk membantu yang membutuhkan para pelajar yang tidak pulang kampung, para pekerja, para sopir, tukang ojek atau pencari nafkah keluarga. Kita pun mengajak anak-anak agar mereka belajar merasakan kebahagiaan berbagi.

Kita juga bisa terus menjaga tutur kata, status di media sosial, meski saat lapar dan dahaga sekalipun jangan sampai ada yang melukai. Ketika emosi muncul, maka kita harus menahan mengendalikannya. Ingat sabda Nabi saw “Apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan bertengkar. Jika ada yang mencacinya, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim) Ini latihan konkret mengelola rasa marah.

Di samping itu, kita sebaiknya menghadirkan rasa syukur saat berbuka. Tidak langsung menikmati makanan minuman tanpa doa dan kesadaran. Kita rasakan nikmat air pertama yang menyentuh tenggorokan, kita ucapkan doa dengan sungguh-sungguh. Itu pendidikan rasa syukur.

Kita juga bisa mengunjungi atau menghubungi menelpon orang tua dan kerabat untuk menghaturkan srlamat menjslankan ibadah Ramadhan sekaligus memohon maaf. Ramadhan adalah momentum melembutkan hubungan yang renggang. Sebuah pesan maaf atau telepon singkat bisa menjadi bukti bahwa jiwa kita peka.

Dan tidak kalah pentingnya, kita bisa membaca, merenungi ayat Al-Qur’an dengan perasaan, bukan hanya bacaan semata. Saat membaca ayat tentang surga, misalnya, kita hadirkan harapan dan saat membaca ayat tentang neraka, kita hadirkan rasa takut. Kita upayakan ayat-ayat Al-Qur’an menyentuh, bukan hanya terdengar atsu terlafalkan.

Bila perasaan terasah, maka akan mengantarkan kita pada kedekatan kepada Allah.  Rasa yang terdidik akan mengantarkan pada ihsan dimana kita beribadah seakan-akan melihat Allah, dan jika tidak mampu, merasa bahwa Allah melihat kita.

Ramadhan adalah bulan di mana rasa takut dan harap bertemu. Takut amal tak diterima dan harap ampunan dilimpahkan. Di antara keduanya, hati menjadi lembut. Maka bahagia menjadikan Ramadhan sebagai pendidikan jiwa berarti membiarkan diri tersentuh. Tersentuh oleh ayat-ayat-Nya, oleh doa-doa malam, oleh penderitaan sesama.

Jika Ramadhan ini bisa menjadi lebih sabar, lebih peduli, lebih lembut dalam berbicara, dan lebih mudah menangis dalam doa itulah tanda bahwa rasa kita telah terdidik. Semoga Ramadhan ini tidak hanya menguatkan iman kita, tetapi juga menghaluskan rasa kita. Agar kita bukan hanya menjadi hamba yang taat, tetapi juga manusia yang penuh empati. Aamiin.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama