Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Tahun Ke-12 Harian Ke-3901
Sabtu, 4 Ramadhan 1447
Bahagia Mendidik Fisik
Saudaraku, di samping pendidikan jiwa (olah hati) rasa (olah rasa) dan akal pikiran (olah pikir), Ramadhan sejatinya juga wahana untuk melatih fisik, mendidik raga, ya olah raga. Makanya fisik orang yang berpuasa sehat wsl afiat bugar dan terampil. Inilah kecerdasan kinestetik.
Memang sih Ramadhan cenderung dipahami pendidikan ruhani, namun dalam pelaksanaannya tersimpan dimensi pendidikan fisik yang sangat ampuh. Tubuh bukan sekadar wadah, tetapi amanah yang harus diasah, dijaga, dilatih, dibiasakan kuat dan disucikan. Puasa mengajarkan bahwa kekuatan fisik sejati bukan terletak pada kelimpahan makanan minuman yang dikonsumsi, tetapi pada kemampuan mengendalikan diri. Allah berfirman: “Dan makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Ayat ini menjadi dasar bahwa tubuh manusia membutuhkan keseimbangan. Ramadhan hadir sebagai madrasah pengendalian diri, mengatur pola makan, memperbaiki ritme istirahat, dan menahan dorongan biologis yang berlebihan. Dalam lapar dan dahaga, tubuh dilatih untuk tunduk kepada ruh, bukan sebaliknya. Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya...” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini bukan sekadar nasihat kesehatan, tetapi filosofi hidup: bahwa kekuatan fisik yang sehat lahir dari kesederhanaan, bukan dari kerakusan. Ramadhan mengembalikan tubuh pada fitrahnya. Ia membersihkan, menata ulang, dan menyeimbangkan. Dalam kondisi berpuasa, tubuh mengalami detoksifikasi alami, metabolisme menjadi lebih teratur, dan energi digunakan secara lebih efisien. Namun lebih dari itu, puasa mengajarkan bahwa tubuh adalah alat ibadah, bukan tujuan hidup.
Secara filosofis, pendidikan fisik dalam bulan Ramadhan adalah proses menundukkan jasad agar selaras dengan kehendak Ilahi. Ketika tubuh mampu menahan lapar, maka sesungguhnya ia sedang belajar taat. Ketika ia mampu bangun untuk sahur dan qiyamullail, ia sedang dilatih disiplin. Ketika ia menahan diri dari hal yang membatalkan puasa, ia sedang ditempa dalam kesadaran.
Secara praktis, pendidikan fisik ini dapat diwujudkan dalam beberapa hal. Pertama, mengatur pola makan saat sahur dan berbuka secara seimbang, tidak berlebihan. Kedua, memilih makanan yang halalan thayyiban, dan menyehatkan. Ketiga, menjaga kebugaran dengan beraktivitas ringan seperti berjalan atau olahraga ringan. Keempat, mengatur waktu tidur agar tetap produktif dalam ibadah. Kelima, menjaga tubuh dari hal yang merusak, seperti emosi berlebihan yang berdampak pada kesehatan fisik.
Ya, idealnya semua itu bukan sekadar rutinitas, tetapi bagian dari ibadah yang terintegrasi. Yang pada akhirnya, tubuh terlatih, fisik yang terdidik di bulan Ramadhan adalah tubuh yang tunduk, sehat, dan siap menjadi sarana ketaatan. Ia tidak lagi menjadi penguasa yang menuntut, tetapi hamba yang patuh. Maka, berbahagialah bagi kita yang menjadikan Ramadhan sebagai wahana mendidik fisik. Karena ia tidak hanya memperoleh kesehatan jasmani, tetapi juga kekuatan spiritual yang memancar dari tubuh yang terjaga. Sebab sejatinya, ketika tubuh tunduk kepada Allah, maka seluruh kehidupan pun akan ikut bersujud. Aamiin.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3901