Bahagia Menjadi Lebih Bijak

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3942
Jumat, Hari Putih Ke-3, Puncak Purna 15 Syawal 1447

Bahagia Menjadi Lebih Bijak
Ssudaraku, dalam menjalani kehidupan di dunia ini, ada rasa bahagia yang lahir dari kebijaksanaan. Bukan karena semua orang setuju dengan kita, tetapi justru karena kita mampu menempatkan diri dengan tepat di tengah keragaman. Sering kali kita ingin didengar, ingin diikuti, ingin dipahami. Namun hidup ini tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Dan di sinilah kebijaksanaan diuji.

Ya, tidak semua harus sesuai dengan keinginan kita. Tidak semua harus setuju dengan pendapat kita. Tidak semua harus mengikuti keinginan kita, dan tentu tidak semua harus menyukai diri kita. Dan yang lebih penting lagi, bahwa  tidak semua yang kita pikirkan itu benar, tidak semua yang kita inginkan itu baik apalagi bagi orang lain. Allah sudah mengingatkan: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu…” (QS. Al-Baqarah: 216). Ayat ini adalah fondasi kebijaksanaan bahwa keterbatasan manusia harus diimbangi dengan kerendahan hati.

Ya bijak itu mengalahkan ego sendiri, bukan orang lain. Bijak itu bukan berarti selalu benar, tetapi mampu menerima bahwa kita bisa salah. Bijak bukan berarti selalu menang dalam perdebatan, tetapi mampu menahan diri ketika perdebatan tidak membawa kebaikan. Rasulullah saw bersabda: “Aku menjamin rumah di surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun ia benar…” (HR. Abu Dawud). Di sinilah letak kebijaksanaan yang mengalahkan ego ternyata lebih mulia daripada mengalahkan orang lain.

Maka kita musti bijak dalam menyikapi perbedaan. Apalagi perbedaan adalah sunnatullah. Tidak mungkin semua manusia berpikir sama. Allah berfirman: “Dan sekiranya Tuhanmu menghendaki, niscaya manusia dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi mereka senantiasa berselisih.” (QS. Hud: 118). Maka bijak berarti tidak mudah tersinggung oleh perbedaan, tidak memaksakan kehendak, tidak menilai orang hanya dari satu sudut pandang, tidak merasa paling benar sendiri

Bijak dalam Mengelola Keinginan. Apa yang kita inginkan belum tentu yang terbaik. Apa yang kita rencanakan belum tentu yang paling aman. Karena manusia melihat dengan keterbatasan, sementara Allah melihat dengan kesempurnaan. Rasulullah saw mengajarkan kita doa: “Ya Allah, pilihkanlah untukku apa yang terbaik, kemudian jadikanlah aku ridha dengan pilihan-Mu.” nilah puncak kebijaksanaan: mampu menerima takdir dengan lapang dada.

Orang yang bijak tidak selalu terlihat menonjol, tetapi terasa menenangkan: Ucapannya terukur, tidak berlebihan, sikapnya tenang, tidak reaktif, keputusannya matang, tidak tergesa-gesa, hatinya lapang, tidak sempit oleh ego. Allah berfirman:“Barang siapa yang dianugerahi hikmah, maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269)

Agar kebijaksanaan itu tumbuh dalam diri kita, berikut langkah nyata yang bisa dilakukan: Pertama, belajar mendengar sebelum berbicara. Karena memahami lebih penting daripada dipahami. Kedua, menahan reaksi emosional.idak semua hal harus ditanggapi. Ketiga, menerima perbedaan dengan lapang dada. Karena kebenaran tidak selalu satu warna. Keempat, mengevaluasi diri sebelum menyalahkan orang lain. Mungkin kita yang perlu diperbaiki. Kelima, memperbanyak doa dan istikharah.
Agar keputusan kita tidak hanya berdasarkan keinginan, tetapi juga petunjuk Allah.

Menjadi bijak bukan berarti tidak punya pendapat, tetapi tahu kapan harus menyampaikan dan kapan harus diam. Bukan berarti tidak punya keinginan, tetapi mampu menundukkan keinginan di hadapan kebenaran. Bukan berarti ingin disukai semua orang, tetapi tetap berbuat baik meski tidak disukai. Bahagia bukan ketika semua berjalan sesuai rencana kita, tetapi ketika kita mampu menerima bahwa rencana Allah selalu lebih baik. Dan ketika kita mulai bijak, kita akan merasakan ketenanga tidak lagi mudah tersulut, tdak lagi mudah kecewa,
tidak lagi mudah memaksakan.

Karena kita sadar hidup ini bukan tentang memaksakan kehendak, tetapi tentang menyelaraskan diri dengan kehendak Allah. Ya Allah, anugerahkan kepada kami hati yang bijak yang mampu melihat dengan jernih, menerima dengan lapang, dan berjalan dengan penuh hikmah.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama