Bahagia Menjadi Lebih Malu

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3941
Kamis, Hari Putih Ke-2, 14 Syawal 1447

Bahagia Menjadi Lebih Malu
Saudaraku, ada satu perasaan yang sering dianggap lemah, padahal justru ia adalah tanda kekuatan iman yaitu malu. Ya malu di hadapan Allah; malu berbuat dosa, malu ketika waktu terbuang sia-sia, malu ketika melihat orang lain mampu berkorban, sementara diri masih sibuk dengan kepentingan sendiri. Inilah mengapa Rasulullah saw bersabda: “Malu itu bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka ketika rasa malu itu hidup, sejatinya iman sedang berbicara.

Malu bukanlah kelemahan. Ia adalah kesadaran terdalam bahwa kita selalu berada dalam pengawasan Allah. Allah berfirman: “Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihat (segala perbuatannya)?” (QS. Al-‘Alaq: 14). Ayat ini seakan mengetuk hati: masihkah kita berani berbuat salah, ketika kita tahu Allah selalu melihat?

Kita musti malu berbuat jahat, seperti ketika tangan ingin mengambil sesuatu yang bukan haknya, ketika lisan ingin menyakiti, ketika hati mulai cenderung pada keburukan. Dalam kondidi ini, rasa malu kepada Allah harus hadir. Rasulullah saw bersabda: “Malulah kepada Allah dengan sebenar-benar malu…” (HR. Tirmidzi). Malu seperti ini yang menjaga manusia tetap lurus.

Kita juga harus malu berbuat lagha (sia-sia). Betapa banyak waktu terbuang untuk hal yang tidak bermanfaat. Padahal hidup di dunia ini singkat, dan setiap detik akan dimintai pertanggungjawaban. Allah berfirman: Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.” (QS. Al-Mu’minun: 3). Malu bukan hanya ketika berbuat dosa, tetapi juga ketika hidup tidak bernilai.

Kita mesti malu ketika melihat pengorbanan orang lain yang begitu ikhlas, begitu berarti baginya. Di belahan dunia lain, ada saudara-saudara kita yang menunjukkan ketulusan luar biasa. Di tengah konflik dan penderitaan, masyarakat di berbagai tempat menunjukkan solidaritas yang menyentuh: anak-anak membawa tabungan mereka,
para ibu menyumbangkan perhiasan,
bahkan ada yang menyerahkan harta berharga demi membantu sesama.  Malah ada kisah tentang seorang perempuan yang menyerahkan emas kenangan suaminya yang telah wafat puluhan tahun, sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya, demi membantu negara yang sedang berperang.

Bukankah ini mengetuk kesadaran hati kita? Di saat mereka memberi dalam keterbatasan,
mengapa kita sering menunda dalam kelapangan? Di saat mereka rela melepas yang dicintai, mengapa kita masih berat melepaskan yang berlebih? Ya, harusnya kita malu, malu yang kemudian melahirkan amal. Malu yang sejati tidak berhenti pada perasaan. Ia harus melahirkan perubahan.

Jika kita malu berbuat dosa. maka kita berhenti. Jka kita malu menyia-nyiakan waktu, maka kita produktif. Jika kita malu melihat pengorbanan orang lain, maka kita mulai memberi. Rasulullah saw bersabda: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Malu seharusnya menggerakkan kita untuk menjadi pemberi, bukan hanya penerima.

Agar rasa malu ini hidup dan berbuah, kita bisa melatihnya: Pertama, menghadirkan muraqabah (merasa diawasi Allah).
Sebelum berbuat, tanyakan: “Apakah aku tidak malu kepada Allah?” Kedua, mengurangi aktivitas sia-sia. Ganti waktu kosong dengan tilawah, dzikir, atau amal kebaikan. Ketiga, belajar memberi. Tidak harus besar, yang penting tulus dan konsisten. Keempat, membandingkan diri dengan orang-orang yang lebih beramal. Agar lahir rasa malu yang membangun, bukan yang melemahkan. Kelima, memperbanyak istighfar.
Karena malu atas dosa harus diiringi dengan taubat.

Malu bukanlah sesuatu yang harus dihilangkan, tetapi harus djaga. Karena ketika rasa malu hilang, manusia akan kehilangan arah. Namun ketika rasa malu hidup, ia akan menjadi penjaga iman. Jadi bahagia bukan karena kita bebas berbuat apa saja,
tetapi karena kita memiliki rem dalam diri yang menahan kita dari keburukan. Dan ketika kita mulai merasa malu malu kepada Allah,
malu kepada waktu, malu kepada pengorbanan orang lain, maka sesungguhnya kita sedang naik satu derajat: dari sekadar hidup menjadi hamba yang sadar.  Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa malu yang menjaga, bukan yang melemahkan. Malu yang mendekatkan kami kepada-Mu, bukan yang menjauhkan kami dari kebaikan. Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama