Memaknai Jempol

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3401
Senin, 4 Rabiul Tsani 1446

Memaknai Jempol
Saudaraku, di antara bahasa tubuh yang juga lazim direngkuh oleh banyak orang adalah acungan jempol (👍).  Acungan jempol digunakan oleh semua orang di dunia ini untuk menunjukkan bahwa sesuatu itu “berkualitas”. Ya, sebuah bahasa isyarat apresiatif atas kebersetujuan bahwa apa yang dikerjakan, yang diilihat, yang dibaca dan atau dirasakan memiliki kualitas yang membanggakan, yang harus disyukuri. Ya, di samping itu, jempol juga untuk menyatakan bahwa yang berkualitas pasti berpulang kepada siempunya karya. 

Di laman mass media seperti whatsApp, twitter, facebook acungan jempol juga sering digunakan ketika mengapresiasi postingan seseorang. 

Dan lebih dari itu, eksistensi jari jempol sebagai pemimpin keempat jari lainnya juga lambang kepemimpinan. Dan yang hal ini sekaligus menggambarkan bahwa seorang pemimpin harus menjadi orang yang pertama untuk memberikan apresiasi, menginspirasi, memotivasi dan menjadi role model attitude bagi teamnya. Apresiasi adalah hal penting dalam organisasi sebagai bentuk penghargaan terhadap seluruh anggota team atas kinerja yang telah dilakukannya. Bahkan dengan apresiasi ini tidak jarang akan menjadikan seseorang dalam team untuk memiliki puncak performa atau kinerja, yang tentunya performa atau kinerja ini akan berdampak bagi keberlangsungan organisasi atau institusi.

Tetapi jangan lupa bahwa acungan jempol akan makna sebaliknya, yakni dengan acungan jempol tapi ke bawah. Simbol atau gerakan acungan jempol seperti ini 👎 sendiri merupakan simbol penolakan, tidak menyukai, atau tidak setuju. Dan makna emoji yang digunakan dalam yang benar-benar sama. Misalnya, ini dapat berfungsi sebagai sebuah tanda dari fakta bahwa seseorang tidak menyukai apa yang mereka lihat atau dengar sama sekali. Ini dapat digunakan sebagai pengganti untuk mengatakan "tidak" untuk tidak menawarkan, dan sebagainya.

Semoga kita menjadi lebih bijak.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama