Memaknai Angkat Tangan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3402
Selasa, 5 Rabiul Tsani 1446

Memaknai Angkat Tangan
Saudaraku, di samping acungan jempol, bahasa tubuh yang juga lazim direngkuh oleh banyak orang adalah mengangkat kedua tangan dengan telapak tangan terbuka menghadap ke depan. Bila setentang dengan bahu, maka gerakan ini bisa disebut atau dimaknai takbir.  

Secara sosiologis antropologis, dalam penggunaan terbatas, juga bisa dinakmai penghormatan kepada lawan bicaranya.  Akan tetapi mengangkat kedua belah tangan di atas kepala,  maka lazimnya dimaknai sebagai penyerahan diri; pasrah, tidak akan nelawan alias "menyerah". Misalnya saat pemeriksaan di bandara. Seluruh penumpang lazimnya menjalani security check point. Dalam hal ini, petugas bandara akan melakukan pemeriksaan kepada setiap penumpang yang hendak menjalani penerbangan demi alasan keamanan.

Biasanya, pemeriksaan terhadap penumpang dilakukan dua kali. Dalam pemeriksaan di bandara, di samping harus meletakkan seluruh bawaan dan melepas jam tangan, ikat pinggang, jaket, topi, bahkan sepatu dan meletakkannya pada wadah agar bisa diperiksa melalui mesin X-ray, juga harus meliwati pintu khusus seraya mengangkat kedua tangan di atas kepala, seluruh tubuh kita akan diperiksa lagi. Ya kita pasrah saja; tidak akan menolak apalagi melawan. Ketika masih mencurigakan atau mesin detektor berbunyi, kita diminta keluar kembali dan masuk lagi sampai benar-benar steril.

Begitu juga saat kita menonton adegan film perang, dimana ketika musuh tak berkutik lagi maka mereka akan membuang senjatanya seraya mengangkat kedua tangannya di atas kepala, bahkan ada yang harus berjalan dengan jongkok. Ini pertanda mereka tidak akan melawan lagi alias menyerah kalah.

Begitulah kira-kira secuil makna bahasa tubuh mengangkat tangan yang dipahami secara umum oleh manusia. Dan dalam Islam, khususnya saat shalat, mengangkat tangan dalam posisi takbir sejatinya di samping tunduk patuh pada kebesaran Allah, kita juga menjunjung tinggi dengan memahabesarkan Allah sekaligus memahakecilkan selainNya, apalagi diri ini di hadapan Ilahi. Ya, sebuah ketundukan hamba sekaligus pemujian pada Sang Khaliq. Semoga dapat kita tunaikan di sepanjang hayat kita. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama