Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3280
Kuala Lumpur, Jumat 30 Zulkaidah 1445
Catatan di KL
Saudaraku, tak terasa sudah di penghujung akhir bulan Zulkaidah 1445, dan halaqah muhasabah telah membersamai aktivitas keseharian kita selama ini dengan mengusung tema tentang seputar ikhtiar, doa, tawakal, qanaah dan ridha. Ya dalam durasi sebulan ini, setiap kita pasti punya agenda melakukan, memikirkan, mengalami dan merasakan apa saja, ke mana saja, dengan siapa, bagaimana realisasinya. Inilah latar mengapa catatan muhasabah hari ini hadir sekedar melawan lupa saja.
Muhasabah pertama bulan ini dibuka dengan mengulangkaji tentang tuntutan atau tuntunan untuk mengikat ide, gagasan dan ilmu dengan menghidupkan tradisi tulis menulis guna membantu agar ilmu tidak mudah sirna dari ingatan kita (muhasabah ke-1). Dengan terus menulis apapun ilmu dan hikmah yang kita peroleh justru menjadi energi positif yang memvasilitasi diri kita untuk menemukan ide dan gagasan baru (muhasabah ke-2). Apalagi, kelazimannya untuk bisa menulis dihajatkannya aktivitas membaca. Dengan aktivitas dan kreativitas membaca akan memungkinkan bagi tersedianya ide dan gagasan baru yang terus menerus.
Nah agar bisa istikamah, dalam Islam menuntun kita untuk ikhtiar yang dirakati (muhasabah ke-3). Nilai ini, secara praktis dapat dilakukan dengan mendawamkan permohonan kepada Allah dan melakukan ketaatan kepadaNya, hatta sekecil apapun ia. Oleh karena itu batas ikhtiar yang dapat dilakukan oleh hamba adalah terus menerus hingga jelas hasilnya (muhasabah ke-4).
Tentu, ikhtiar yang demikian perlu tirakat (muhasabah ke-5). Ketika memiliki cita-cita atau keinginan kemuliaan tertentu - misalnya bercita-cita menjadi orangtua bijak yang berhasil mendidik anak-anaknya, bercita-cita menjadi guru, dosen, dokter, wakil rakyat, segera sarjana, magister, doktor, profesor, menjadi insinyur, tentara, polisi, pengacara yang berkah memberkahi untuk diri keluarga dan sesamanya atau cita-cita mulia lainnya - mestinya kita selalu berada dalam ketaatan kepada Allah hatta sekecil apapun itu.
Tirakat seorang muslim(at) atau praktik ketaatan yang sering didawamkan di antaranya senantiasa bersih diri, suci dari hadats serta membiasakan diri memiliki air sembahyang, berpuasa sunat dan mengurangi porsi makan dalam kesehariannya (baca "prihatin"), mengurangi tidur, suka berkontemplasi berpikir dan merenung sembari dzikrullah bahkan juga uzlah atau iktikaf, berdoa bermohon kepada Allah, berlama-lama mengerjakan shalat terutama saat shalat sunat malam, suka memperbanyak dalam membaca al-Qur'an, berinteraksi dengan sesama dengan amat berhati-hati dan seperlunya saja serta suka berbagi.
Baik ikhtiar maupun tirakatnya memang harus dilakukan di atas rata-rata (muhasabah ke-6) agar memperoleh maqamam mahmuda, unggul. Dalam riwayat kita diingatkan seharusnya mengikat unta (berikhtiar) dulu kemudian baru tawakal (muhasabah ke-7). Dalam hal ikhtiar meneguhkan ketaatan hatta sekecil apapun ia, kita bisa belajar dari burung pipit yang berusaha memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim (muhasabah ke-8). Di sini, sejatinya sudah cukup untuk menunjukkan keberpihakannya pada kebennaran (muhasabah ke-9). Dan dalam hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh cicak yang justru meniup api agar membesar.
Ketika keberpihakan pada kebenaran sudah dipertahankan secara istikamah, maka biarlah ketentuan Allah berlaku atas kita. Dan itulah yang terbaik, meski terkadang kita tidak sabar terhadap ketentuan Allah. Padahal seandai tahu hikmah di balik segala ketentuanNya, pasti lebih bisa menjadi lebih bersyukur (muhasabah ke-10). Ranahnya hamba adalah berikhtiar dan selalu dalam ketaatan. Bila ini sudah dapat direngkuh, maka hasilnyapun pasti merupakan kebaikan. Inilah di antara sunatullahNya bahwa kebaikan berbuah kebaikan, dan juga sebaliknya (muhasabah ke-11).
Di samping itu, agar bahagia kita dituntun untuk tidak suka mengeluh atas apapun kondisi dan ketetapan Allah (muhasabah ke-12), menjauhi sikap berputus asa (muhasabah ke-13), berprasangka buruk, suudzan apalagi kepada Allah (muhasabah ke-14), tidak perlu mencari kambing hitam atas apapun yang berlaku atas kita (muhasabah ke-15).
Di antara sikap pelarian diri yang positif (muhasabah ke-16) yang dalam istilah psikologi mirip-mirip dengan katarsis, sehingga beban psikologisnya hilang atau setidaknya berkurang (muhasabah ke-17) Tetapi tentu lebih bijak kita menangkap di antara hikmahnya yang tersirat dalam setiap peristiwa atau kondisi yang tidak mengenakkan sekalipun (muhasabah ke-18).
Sekali lagi, manusia dianugrahi kebebasan memilah dan memilih (muhasabah ke-19) yang harus disyukuri. Kita musti percaya diri mampu memilih dan berbuat yang terbaik bagi diri keluarga dan sesamanya (muhasabah ke-20). Hal yang penting dilakukan adalah istikamah dalam ketaatan (muhasabah ke-21), memelihara diri dari hal-hal yang berpotensi merugikan (muhasabah ke-22). Seyogyanya semua ini dijalani dengan memadu antara rasa syukur dan sabar (muhasabah ke-23), takut dan harap (muhasabah ke-24), berpikir dan berdzikir (muhasabah ke-25), juga ingat hidup ingat mati (muhasabah ke-26), menaati hukum alam dan syariat (muhasabah ke-27), sehingga berbagia dunia akhirat (muhasabah ke-28) dan Allah pun ridha atas kita (muhasabah ke-29)
inilah di antara rangkuman muhasabah bulan ini yang boleh ditulis dalam tajuk catatan di KL, Kuala Lumpur (muhasabah ke-30) ini.
Memori ibadah haji tahun 1444
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3280