Ridha Allah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3279
Bangi, Malaysia, Kamis, 29 Zulkaidah 1445

Ridha Allah
Saudaraku, di samping bersyukur dan bersabar, takut dan harap (khauf wa raja'), berpikir dan berdzikir, ingat hidup juga ingat mati, taat hukum alam dan hukum syariat, bahagia dunia dan akhirat sebagaimana telah diingatkan dalam  muhasabah akhir-akhir ini, maka kita memohon dan berikhtiar memperoleh keridhaan Allah.

Tentu, untuk memperoleh keridhaan Allah kita musti beriman dan beramal shalih. Balasan bagi orang yang beriman dan beramal shalih dinyatakan oleh Allah dalam  al-Quran yakni Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.

Allah ridha terhadap orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Kata kunci untuk memperoleh keridhaan Allah adalah beriman dan beramal shalih. Ia harus sistemik, satu kesatuan yang padu. Beriman itu meyakini Allah dalam hati, mengikrarkannya dengan lisan (baca bersyahadat) dan membuktikannya dalam kehidupan praktis. Dan pembuktian secara praktis lebih ditegaskan lagi dengan key word yang kedua yakni beramal shalih. Beramal shalih itu mengomodir seluruh perbuatan baik yang memberi kebermanfaatan kepada diri, sesama dan makhluk sekitarnya.

Kira-kira, beriman itu lebih berorientasi vertikal (hablum minallah), sedangkan beramal shalih itu lebih cenderung berorientasi horisontal (hablum minannas). Dengan demikian keridhaan Allah harus dijemput dengan mengindahkan hablum minallah dan hablum minannas, reladi vertikal dan relasi horisontal.

Oleh karenanya kita juga diwarning oleh Nabi Muhammad saw melalui sabdanya bahwa: “Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman.” (HR. Ath-Thabrani).

Semoga kita mampu memadu sntara iman dan amal shalih. Aamiin

Memori ibadah haji 1444

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 29 Zulkaidah 1444

Pakaian Ihram
Saudaraku, di antara barang bawaan yang wajib dibawa ke tanah suci oleh jamaah haji dan umrah adalah pakaian ihram. Mengapa? Karena pakaian ihram ini akan dikenakan oleh jamaah laki-laki dan perempuan saat dalam keadaan ihram, sebagai bagian dari pelaksanaan rukun haji maupun umrah. 

Untuk laki-laki, pakaian ihram ini terdiri dari dua helai kain tanpa jahitan yang dipakai untuk menutup aurat sebagian atas dan seluruh bagian bawah tetapi tetap nampak mata kaki. Sementara untuk perempuan pakaian penutup semua badan kecuali wajah dan telapak tangan, yang dikenakan untuk ihram. Maka pakaian ihram sejatinya merupakan pakaian khusus dan spesial.

Kain ihram disunahkan berwarna putih dan sebaiknya tidak bergambar apalagi warna warni. Meskipun sejatinya hanya wajib dikenakan saat ibadah umrah dan haji yang ditandai dengan miqat di tempat tertentu (misal di bir Ali, Zulhulaifah, Qarnul Manazil, Yalamlam, Jufah dan Dzatul Irq) hingga tahalul, akan tetapi bila bermaksud akan shalat atau iktikaf di lantai dasar sekitar ka'bah, maka kain ihram wajib dikenakan. Bila tidak mengenakan pakaian ihran maka kita tidak akan diijinkan masuk ke bagian inti yang paling dekat ka'bah ini, melainkan kita akan diarahkan ke pintu lain baik di luar di halaman maupun di dalam di lantai 2., 3 atau 4 dan seterusnya. Tapi jangan berharap bisa nampak ka'bah lagi, di area sini, karena jauh dan terhalang dengan dinding dan atau tiang penyangga yang amat banyak.

Untuk aturan mengenakan pakaian ihram ini khususnya bagi laki-laki, karena pakaian ihramnya sangat mudah dikenali. Adapun perempuan karena pakaian ihramnya tidak mudah dikenali karena serupa dengan pakaian biasanya, maka larangan masuk ke lantai dasat seputar ka'bah relatif tidak begitu ketat. Tapi bagi pasangan suami istri, pasti dikenali melalui suaminya. Maka agar aman dan leluasa bisa masuk ke bagian inti di lantai dasar seputaran ka'bah sebaiknya mengenakan pakaian ihram.  Untuk ini sebaiknya membawa pakaian ihram lebih dari satu stel, misalnya dua, sehingga bisa bergantian bila yang satunya kotor, najis atau harus dicuci. Sementara pakaian lain ya tiga pasang sudah relatif memadahi.

Ya, pakaian ihram sebagai pakaian khusus bagi tamu Allah yang akan bersimpuh di bagian utama di lantai dasar pelataran seputaran ka'bah di Baitullah yang juga mengingatkan kita akan kain kafan pakaian yang akan dikenakan saat meninggal dunia menghadap ke haribaanNya, pertanda sebentar lagi akan diantar ke liang lahatnya.

Dengan demikian, baik saat haji/umrah maupun saat mati kita hanya dibalut dengan beberapa helai kain yang tak berjahit saja meski semasa keseharian hidupnya ada yang bergelimang dengan harta, tahta dan banyak anggota keluarga yang mengerubutinya. 

Begitulah dalam hal ini kita belajar agar tak terikat atau diikat oleh dunia (harta, tahta, keluarga). Mengapa? Karena suatu saat semua dunia itu pasti  akan meninggalkan kita dan atau kita yang meninggalkannya untuk selama-lamanya. Oleh karenanya, hidup di dunia mestinya tetap hamba Allah saja, bukan hamba dunia, tidak hamba tahta, tidak hamba harta, apalagi hamba setan. Semoga kita bisa menjadi hamba Allah yang setia. Aamiin ya Mujib al-Sailin


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama