Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 1 Zulhijah 1444
Kesibukan Bermakna
Saudaraku, sejauh ini dalam rangkaian penunaian ibadah haji, hari-hari yang dilalui okeh para jamaah benar-benar sarat dengan kesibukan bermakna. Kesibukannya bahkan sebelum berangkat masih di negeri sendiri, apalagi di tanah suci
Semenjak di antar oleh keluarga ke titik kumpul pelepasan jamaah dan sesampai di embarkasi masing-masing jamaah sudah harus beradaptasi memenuhi agenda demi agenda. Talbiyah sudah mulai dikumandangkan di sela-sela memenuhi kesibukannya, baik administrasi maupun substansi ibadah hingga naik pesawat ke Arab Saudi.
Sesampai di Arab Saudi, setelah menyelesaikan urusan akomodasi, jamaah sudah harus mengejar arbain, shalat 40 waktu bersama imam di Masjid Nabawi dengan serangkaian ibadah dan ziyarah yang diikuti. Hari demi haripun berlalu dengan kesibukan yang menyita, tahu-tahu sudah harus berangkat ke Makkah menunaikan "umrah wajib haji" dengan mengambil miqat di Birr Ali. Setelah menyelesaikan urusan akomodasi di hotel terdekat di seputar Baitullah, para jamaah sudah harus menyelesaikan ibadah umrah, thawaf, sa'i dan tahalul.
Hari-hari berikutnya terisi dan diisi hampir tanpa jeda dari agenda ibadah, ibadah dan ibadah. Bilapun ada aktivitas lain sejatinya hanya untuk mendukung memaksimalkan kesempurnaan ibadah, misalnya istirahat di hotel. Istirahat harus dilakukan meski sedikit agar konsentrasi ibadah demi ibadah tetap terjaga. Karena niat ke tanah suci untuk ibadah, maka seluruh perhatian hanya diabdikan untuk ibadah. Saking padatnya agenda, banyak jamaah tak tahu lagi hari ini hari apa dan tanggal berapa. Yang diingat adalah ibadah yang dilalui dan yang akan diikuti.
Bersuci dengan wudhuk atau mandi dan dalam kondisi suci memiliki air wudhuk dalam 24 jam lazimnya terjaga. Berkemas pergi Masjidil Haram jauh sebelum waktu shalat tiba sudah menjadi biasa agar lebih leluasa tempat untuk bisa "beriktikaf", shalat atau tilawah Qur'an. Bila bermaksud thawaf sunat di dini hari, maka pukul 01.00 atau pukul 02.00 sudah harus mengenakan pakaian ihram dan segera menuju ke Baitullah melakukan thawaf, syukur-syukur sempurna tujuh putaran dengan serangkaian doa yang dipanjadkan. Diupayakan adzan pertama berkumandang di Masjidil Haram pukul 03.00 sudah menyelesaikan thawaf, shalat sunah di sekitat maqam ibrahim, syukur-syukur juga qiyamul lail dan berdoa sebanyak-banyaknya di sekitar multazam sembari menunggu shalat subuh ditunaikan.
Usai shalat subuh lengkap dengan munajad doa masing-masing, boleh bersambung iktikaf menunggu datangnya waktu syuruq untuk mengerjakan shalat isyraq, dan sebentar dhuha 2, 2, 2, 2, 2 dan 2 rekaat agar Allah memudahkan rezeki bagi kita, bagi keluarga dan bagi orang-orang yang kita cintai. Bila rezeki kita masih jauh, agar didekatkan oleh Allah. Bila rezeki kita masih di langit, agar diturunkan oleh Allah. Bila rezeki kita masih di dalam perut bumi, agar dikeluarkan oleh Allah. Bila rezeki kita masih sedikit, agar dilipatgandakan oleh Allah. Bila masih ada yang bercampur dengan haram, agar diampuni oleh Allah. Kita mohon pada Allah agar menjadi di antara hambaNya yang pandai mensyukuri.
Bila tidak pergi ke Masjidil haram, dan hanya memadakan beraktivitas ibadah di mushala hotel, maka jauh sebelum waktu shalat tiba sudah harus tiba sana agar agak leluasa tempat untuk bisa "beriktikaf", shalat atau tilawah Qur'an.
Bilapun ada agenda berziarah, maka semata-mata untuk menambah cakrawala ilmu pengetahuan tentangnya dan ujung-ujungnya dapat menjadikan ibadah mahdhah yang dilakukannya lebih berkualitas. Termasuk aktivitas berbelanja sesuatu atau oleh-oleh yang natinya untuk keperluan di rumah dan untuk lumrah dalam kehidupan sosial masyarakat yang mengitarinya di kampung halaman.
Begitulah, hari-hari yang dilalui oleh para jamaah haji di tanah suci, sarat agenda kesibukan yang bermakna. Semoga. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian