Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 5 Rabiul Awal 1444
Cinta Iman
Saudaraku, dalam beberapa hari terakhir ini muhasabah telah mengingatkan tentang cinta din al-Islam, cinta al-Qur'an dan cinta syariat, pada ketiganya aspek iman menjadi prasyarat utama yang sekaligus bukti mencintainya. Maka hal ini melatari tema muhasabah hari ini diracik di bawah judul cinta iman.
Allah berfirman yang artinya, Dan ketahuilah olehmu bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti (kemauan) kamu dalam banyak hal pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, (Qs. Al-Hujurat 7)
Bagaimana cinta terhadap keimanan pada Allah merefleksi dalam sikap keseharian kita? Pertama, memperkuat iman dengan menambah penguasaan ilmu dan mewujudkannya dalam amal shalih. Jadi antara iman, ilmu dan amal shalih ini musti terjalin berkelindan sistemik yang saling munsuport menguatkan satu atas lainnya.
Tentu, dalam praktiknya boleh dimulai dari aspek yang manapun dari ketiganya; iman, ilmu dan amal. Iman menuntun penguasaan ilmu dan hikmah yang dengannya merefleksi pada amal shalih. Sebaliknya, begitu juga amal shalih yang didasari oleh ilmu tentangnya tentu akan memengaruhi secara langsung peningkatan kualitas iman.
Kedua, istikamah dalam iman pada Allah. Satu kesatuan sistemik antara iman, ilmu dan amal telah menunjukkan totalitas kepribadian seorang mukmin, maka keistikamahan eksistensi dan keberlanjutannya merupakan keniscayaan. Inilah mengapa jihad, ijtihad dan mujahadah musti dikukuhkan. Karena menjaga keistikamahan dalam ketaatan dan iman menjadi tidak mudah, apalagi ujian untuk ini datang silih berganti.
Bila ikhtiar peningkatan kualitas ilmu terus dilakukan secara istikamah, maka secara otomatis akan memengaruhi kadar kualitas keimanannya. Bila ini terjadi pasti akan merefleksi pada keistikamahan dalam beramal shalih. Hal ini sekaligus untuk menepis adanya keshalihan sporadis; saatnya panas dan bersemangat hanya sebentar, lalu datanglah sikap dingin dan biasa-biasa saja.
Ketiga, merengkuh iman pada Allah dan berislam di manapun dan kapanpun, bahkan hingga wafat di akhir hayat. Oleh karenanya iman tidak akan digadaikan apalagi ditukar dengan selainnya, meski godaan duniawi datang silih berganti dan tidak jarang yang sangat memikat hati. Inilah sejatinya yang diwanti-wanti oleh Allah dalam firmanNya yang artinya Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Qs. Ali Imran 102)
Rujukan kecintaan terhadap iman pada para sahabat saat awal-awal Islam. Figur yang paling populer adalah Bilal bin Rabbah dan Ammar bin Yasir. Keimanan Bilal dan masuknya Islam mendapat ujian amat keras dari majikannya. Ujian atas keimanan yang dialaminya sungguh berat seperti dicambuk, dijemur di terik matahari sampai dirinya ditindih dengan batu. Meski demikian, Bilal tetap cinta iman, istikamah dalam akidah, dan berkomitmen dalam Islam.
Demikian juga Ammar bin Yasir. Dia disiksa dengan besi panas, disalib di atas pasir panas dengan batu merah membara ditindihkan ke dadanya, bahkan hingga ditenggelamkan ke dalam air untuk membuat sesak nafasnya. Tubuhnya penuh luka-luka dan kulitnya banyak yang mengelupas.
Itulah sekelumit keistikamahan kaum muslimin era klasik dalam merengiuh Islam, dan mencintai iman. Tentu, kini ujian iman juga relatif sangat berat. Tetapi dalam halam ini tentu harus istikamah dalam iman. Jangan sampai gara-gara harta tahta dan wanita/pria yang ingin dinikahinya lalu menggadaikan iman, dan menukar Islam. Na'udzubillahi min dzalik
Tags:
Muhasabah Harian