Bahagia Belajar Sepanjang Hayat

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.059
Ahad, 11 Safar 1448

Bahagia Belajar Sepanjang Hayat
Saudaraku, pada musim haji tahun 93 Hijriah, di Masjidil Haram, seorang khalifah dari Bani Umayyah, Sulaiman bin Abdul Malik, melihat seorang ulama sepuh yang telah berusia lebih dari delapan puluh tahun masih duduk dikelilingi para muridnya. Ulama itu adalah Atha' bin Abi Rabah, seorang tabi'in besar, ahli fikih Makkah, dan murid Abdullah bin Abbas. Rambutnya telah memutih, tubuhnya telah renta, penglihatannya mulai melemah, namun semangatnya mempelajari, mengajarkan, dan mendiskusikan ilmu tidak pernah surut. Sang khalifah bertanya kepada salah seorang yang hadir, "Bukankah beliau sudah sangat tua?" Orang itu menjawab, "Usia boleh menua, tetapi seorang pencari ilmu tidak pernah pensiun." Di hadapan Atha', seorang khalifah pun duduk sebagai murid. Pemandangan itu mengajarkan bahwa dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak diukur oleh jabatan, melainkan oleh kedekatannya dengan ilmu dan ketakwaan.

Muhasabah-muhasabah sebelumnya telah mengingatkan kita bahwa ilmu harus dicintai karena Allah, dicari dengan niat yang ikhlas, dipandu oleh wahyu, disertai rasa ingin tahu, dibangun melalui budaya membaca, dijaga dengan adab, dan diwariskan melalui guru-guru yang saleh. Hari ini kita diajak merenungkan satu kenyataan besar, yaitu belajar tidak pernah memiliki garis akhir selama kehidupan masih berlangsung. Sesungguhnya, yang berhenti bukanlah ilmu, tetapi manusianya. Selama matahari masih terbit, selama napas masih berhembus, selalu ada ilmu baru yang perlu dipelajari, hikmah baru yang perlu dipahami, dan diri yang perlu diperbaiki.

Secara filosofis, belajar adalah bentuk pengakuan bahwa manusia tidak pernah selesai menjadi "manusia". Ketika seseorang berkata, "Aku sudah tahu semuanya," pada saat itulah sesungguhnya ia mulai kehilangan kebijaksanaan. Sebaliknya, ketika seseorang berkata, "Masih banyak yang belum aku ketahui," pada saat itulah pintu-pintu ilmu dibukakan Allah baginya. Kerendahan hati adalah tanah yang paling subur bagi tumbuhnya ilmu. Kesombongan adalah gurun yang mematikan benih-benih hikmah.

Allah mengingatkan dalam firman-Nya: «"... dan di atas setiap orang yang berpengetahuan masih ada Yang Maha Mengetahui." (QS. Yusuf: 76). Ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada ilmuwan yang paling sempurna, tidak ada profesor yang mengetahui segala sesuatu, tidak ada ulama yang terbebas dari kebutuhan untuk terus belajar. Semakin tinggi seseorang mendaki gunung ilmu, semakin luas cakrawala ketidaktahuan yang akan ia lihat. Inilah paradoks ilmu: semakin banyak mengetahui, semakin sadar betapa sedikit yang diketahui.

Perhatikanlah perjalanan para ulama besar Islam. Imam Ahmad bin Hanbal masih membawa tinta dan pena pada usia senja. Ketika ada yang bertanya, "Sampai kapan engkau akan mencari ilmu?" beliau menjawab, "Dari tinta hingga liang lahat." Imam Al-Bukhari melakukan perjalanan ribuan kilometer untuk memastikan satu hadis. Imam An-Nawawi menghabiskan hampir seluruh hidupnya dengan membaca, menulis, mengajar, dan bermunajat. Mereka tidak pernah menganggap belajar sebagai fase kehidupan, tetapi sebagai cara menjalani kehidupan. Bagi mereka, setiap hari tanpa ilmu adalah hari yang kehilangan keberkahan.

Ironisnya, pada zaman sekarang banyak orang berhenti belajar setelah memperoleh ijazah. Gelar dianggap sebagai garis finis, padahal ia hanyalah garis start untuk mengabdi kepada masyarakat. Ada yang berhenti membaca setelah lulus kuliah, berhenti berdiskusi setelah menjadi pejabat, berhenti menerima nasihat setelah menjadi pemimpin. Akibatnya, usia terus bertambah, tetapi kebijaksanaan tidak ikut bertambah. Pengalaman semakin banyak, tetapi kedewasaan tidak selalu mengiringinya.

Belajar sepanjang hayat bukan berarti selalu duduk di ruang kelas. Kita belajar dari Al-Qur'an setiap hari. Kita belajar dari pengalaman hidup. Kita belajar dari kegagalan yang mengajarkan kehati-hatian. Kita belajar dari keberhasilan yang mengajarkan rasa syukur. Kita belajar dari anak-anak tentang kejujuran, dari orang tua tentang kesabaran, dari orang miskin tentang qana'ah, dari orang sakit tentang ketabahan, bahkan dari kematian tentang arti kehidupan. Seluruh alam semesta adalah madrasah besar yang Allah bentangkan bagi siapa saja yang mau mengambil pelajaran.

Pebelajar sedungguhnya tidak pernah malu belajar kepada siapa pun selama ilmu itu benar. Tidak pernah merasa tua untuk membaca, tidak terlalu tinggi untuk bertanya, atau tidak terlalu sibuk untuk menambah wawasan. Sebab yang membuat seseorang tua bukanlah usianya, melainkan ketika ia berhenti bertumbuh. Dan yang membuat hati tetap muda bukanlah fisiknya, melainkan semangatnya untuk terus belajar demi mencari ridha Allah. Semoga


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama