Bahagia Berguru

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.058
Sabtu, 10 Safar 1448

Bahagia Berguru kepada Orang yang Saleh dan Berilmu
Saudaraku, Abdullah bin al-Mubarak, seorang ulama besar abad ke-2 Hijriah,  pernah mengatakan bahwa seseorang lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu. Karena itu, ketika hendak mencari guru, beliau tidak hanya melihat keluasan ilmunya, tetapi juga memperhatikan keikhlasan ibadahnya, kezuhudannya, kejujurannya, dan akhlaknya. Baginya, seorang guru bukan sekadar penyampai pengetahuan, melainkan teladan kehidupan. Ya, guru adalah teladan kehidupan.

Muhasabah kemarin telah mengingatkan kita bahwa adab harus didahulukan sebelum ilmu. Hari ini kita melangkah lebih jauh. Salah satu bentuk adab terbesar dalam menuntut ilmu adalah memilih guru yang saleh dan berilmu. Sebab ilmu yang berkah memberkahi bukan hanya dipindahkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui keteladanannya. Seorang murid sering kali lebih banyak belajar dari kehidupan gurunya daripada dari ceramahnya.

Secara filosofis, guru adalah jembatan antara ilmu dan hikmah. Buku dapat memberikan informasi, tetapi guru mengajarkan cara memahami. Kitab dapat menjelaskan hukum, tetapi guru menunjukkan bagaimana hukum itu diamalkan dengan kasih sayang dan kebijaksanaan. Oleh sebab itu, para ulama dahulu rela menempuh perjalanan berbulan-bulan bukan hanya untuk memperoleh satu hadis, tetapi juga untuk melihat langsung bagaimana gurunya menjalankan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Islam sangat memuliakan hubungan antara guru dan murid. Rasulullah tidak hanya mengajarkan ayat-ayat Al-Qur'an, tetapi juga membentuk karakter para sahabat melalui keteladanan. Karena itulah lahir generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga jujur, amanah, rendah hati, dan penuh kasih sayang. Mereka belajar bukan sekadar mendengar ucapan Nabi, tetapi menyaksikan kehidupan beliau.

Di era digital seperti kini, ilmu dapat diperoleh hanya dengan satu sentuhan layar. Ribuan ceramah, buku, dan artikel tersedia setiap saat. Ini adalah nikmat yang patut disyukuri. Namun kemudahan itu juga mengandung tantangan. Tidak semua yang pandai berbicara layak dijadikan guru. Tidak semua yang terkenal memiliki keteladanan. Karena itu, seorang penuntut ilmu harus memiliki kebijaksanaan dalam memilih siapa yang akan diikuti. Pilihlah guru yang ilmunya benar, akhlaknya mulia, ibadahnya terjaga, dan kehadirannya semakin mendekatkan kita kepada Allah.

Guru terbaik bukanlah yang membuat muridnya bergantung kepadanya, tetapi yang mengantarkan muridnya semakin dekat kepada Allah dan Rasul-Nya. Guru yang baik tidak ingin dikagumi, tetapi ingin melihat muridnya menjadi lebih bertakwa dan lebih bermanfaat bagi umat.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama