Cinta Syariat

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 4 Rabiul Awal 1444

Cinta Syariat
Saudaraku, di samping kepada din al-Islam dan al-Qur'an, maka kecintaan terhadap syariat juga merupakan bukti cinta kepada Allah. Meskipun dengan mencintai syariatNya sejatinya juga mencintai dirinya sendiri. Mengapa? Ya, karena dengan mencintai syariatNya akan membawa dirinya pada kebahagiaan, baik saat hidup di dunia maupun di akhirat. 

Bagaimana logikanya? Ya, karena syariat itu dalam pemakaian di masyarakat Arab klasik mulanya dimaksudkan sebagai tanda atau isyarat yang menunjukkan jalan menuju ke arah air. Jadi bersyariat itu agar menemukan air. Bukankah air menjadi keniscayaan hidup dan kehidupan?. Oleh karenanya mematuhi syariat (Islam) juga menjadi keniscayaan bagi kesejukan hidup dan kehidupan. Mengabaikan syariat, bermakna hidupnya gersang.

Di samping itu, air juga sebagai keniscayaan kehidupan yang sangat dihajatkan keberadaannya, dan kita juga bisa belajar banyak dari air. Air itu dingin dan mendinginkan. Betapa indah dan mulianya bila kehadiran kita sebagai manusia bisa membawa kesejukan terhadap apa dan siapapun yang ada. Penampilannya menawan, kata-kata yang dikeluarkannya enak didengar oleh telinga dan nyaman bagi hati,  perilakunya santun penuh pesona.

Air itu mengairi, mengaliri, menutupi (lobang, kekurangan) dan meratakan. Bisa memberi dan berbagi kemaslahatan dengan sesama merupakan nilai kemuliaan yang didambakan. Demikian juga perilaku menutupi kekurangan orang lain.  Ketika bisa direalisasikan tetap membawa kebersahajaan rerata sehingga jauh dari sikap menonjol-nonjolkan diri.

Air itu melegakan dan menghilangkan dahaga. Kemiskinan harta benda, kemiskinan ilmu pengetahuan juga teknologi dan kemiskinan spiritual di hati merupakan 'dahaga' yang masih dirasakan dan terjadi di sekitar kita. Oleh karenanya segala peran yang dapat menghilangkan atau mengurangi rasa dahaga tersebut mendapat apresiasi yang tinggi. Kita belajar menjadi air untuk ini.

Nah, dengan demikian cinta syariat itu melegakan perasaan; dengannya dapat menghilangkan dahaga kehidupan; dengannya dapat menyamankan suasana; dengannya mencerdaskan pikiran, dan dengannya mampu membahagiakan hati.

Lalu, bagaimana langkah konkret kita mencintai syariat Islam? Ya, tentu pertama dimulai dari aspek iman, yakni meyakini bahwa syariat Islam merupakan "hukum agama" yang berisi peraturan hidup manusia, hubungan manusia dengan Allah swt., hubungan antar sesamanya dan hubungan dengan alam sekitarnya berdasarkan Al-Qur’an dan hadits. 

Kedua, mempelajari sembari mengamalkan meski secara bertahab. Untuk mengamalkan syariat, tentu, tak perlu menunggu sempurna ilmu pengetahuannya. Tetapi seberapa yang ada seberapa yang diketahui, langsung dipraktikkan. Bila menunggu perfect, tentu akan menjadi bumerang, maka seberapa penguasaan ilmu mestinya langsung diamalkan. Inilah makanya ada semboyan hidup bahwa ilmu itu musti amaliah, dan amal itu musti ilmiah.

Ketiga, menjaga nama baik. Tentu menjaga nama baik dengan cara mengerjakan yang diperintahkan dan meninggalkan segala larangannya. Bila melakukan hal-hal yang bertentangan syariat, maka sejatinya ia sudah termasuk mencemarkan "nama baik" syariat yang mustinya dijaga.

Keempat, mewariskannya oleh dan antar generasi. Syariat Islam itu mustinya menjadi "kurikulum kehidupan" yang musti ditransfer dididikkan oleh setiap orang, dalam setiap institusi pendidikan, baik informal, non formal maupun apalagi institusi formal.

Semoga kita termasuk para pecibta syariat. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama