Bahagia Ketika Ilmu Berbuah pada Amal

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.060
Senin, 12 Safar 1448

Bahagia Ketika Ilmu Berbuah pada Amal
Saudaraku, pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, hiduplah seorang ulama besar bernama Hasan al-Bashri. Suatu hari, seorang pemuda datang meminta nasihat. Hasan al-Bashri tidak langsung memberikan ceramah panjang. Beliau hanya berkata, "Ilmu memanggil amal. Jika amal menjawab panggilannya, ilmu akan menetap. Jika tidak, ilmu itu akan pergi." Kalimat singkat itu kemudian menjadi salah satu mutiara hikmah yang diwariskan sepanjang sejarah Islam. Hasan al-Bashri memahami bahwa ilmu bukanlah hiasan untuk memenuhi akal, melainkan cahaya yang harus menerangi perilaku. Ilmu yang disebarkan namun tidak diamalkan laksana pelita yang menerangi orang lain, tetapi membiarkan dirinya sendiri berada dalam kegelapan.

Muhasabah kemarin telah mengajak kita menjadi pembelajar sepanjang hayat, dan hari ini kita diingatkan bahwa belajar bukanlah tujuan akhir. Tujuan akhir dari ilmu adalah perubahan. Perubahan cara berpikir, perubahan cara bersikap, perubahan cara beribadah menjadi lebih baik, dan perubahan cara memaknai kehidupan menjadi lebih bermakna. Bila ilmu tidak mengubah diri, maka yang bertambah hanyalah informasi, bukan kebijaksanaan.

Secara filosofis, ilmu adalah benih, pohon sedangkan amal adalah buahnya. Tidak ada orang menanam pohon buah-buahan hanya untuk menikmati daunnya saja. Pohon ditanam agar berbuah dan memberi manfaat. Demikian pula ilmu. Allah tidak memberikan ilmu agar manusia dipuji karena kepintarannya, tetapi agar ia menghadirkan kemaslahatan bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, dan alam semesta. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar pula manfaat yang dirasakan oleh orang lain.

Al-Qur'an berkali-kali menyandingkan iman dengan amal saleh. Hampir tidak pernah Allah menyebut iman tanpa amal. Ini menunjukkan bahwa keyakinan yang benar harus melahirkan tindakan yang benar. Rasulullah pun berdoa agar dilindungi dari ilmu yang tidak bermanfaat. Mengapa? Karena ilmu yang tidak melahirkan amal dapat berubah menjadi hujah yang memberatkan pemiliknya pada hari kiamat. Mengetahui kebenaran tetapi tidak mengerjakannya jauh lebih berbahaya daripada belum mengetahuinya.

Kita tahu rukun iman, maka ilmu itu harus mewujud dalam pengamalan arkanul islam. Kita tahu ada shalat rawatif, maka ia harus pewujud pada amaliyah sjalat rawatib. Demikian juga kita tahu dahsyatnya fadhilah shalat tahajud, shalat fajar, shalat dhuha, maka ia seyogyanya juga mewujud dalam kebiasaan yang hidup. Kita tahu untuk memperindah pelaksanaan puasa wajib Ramadhan penting berpuasa sunat (senin kamis, ayamul bidh dll), maka kita juga mengindahkannya. Kita tahu disiplin itu berkah, maka kita mengindahkannya. Dan seterusnya

Dalam dunia pendidikan modern, keberhasilan sering diukur dari nilai ujian, gelar akademik, atau banyaknya publikasi. Semua itu penting, tetapi belum cukup. Dalam pandangan Islam, di cerdas, keberhasilan ilmu justru tampak ketika seseorang menjadi lebih jujur setelah mempelajari kejujuran, lebih amanah setelah memahami amanah, lebih khusyuk setelah mempelajari shalat, lebih penyayang setelah memahami akhlak Rasulullah. Ilmu yang sejati selalu meninggalkan jejak dalam perilaku.

Kita juga perlu jujur kepada diri sendiri. Berapa banyak ayat yang telah kita hafal tetapi belum kita hayati? Berapa banyak hadis yang telah kita baca tetapi belum kita amalkan? Berapa banyak nasihat yang kita sampaikan kepada orang lain, tetapi belum kita praktikkan dalam kehidupan sendiri? Muhasabah ini bukan untuk menyalahkan diri, melainkan untuk mengingatkan bahwa setiap ilmu adalah amanah yang kelak akan dipertanyakan oleh Allah.

Ketika ilmu berubah menjadi amal, amal menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi akhlak, dan akhlak menjadi jalan menuju ridha Allah, ridha Allah melempangkan jalan ke surga (jalan bahagia). Saat itulah ilmu baru benar-benar menetap dan hidup di dalam diri kita.

Bukankah, kita telah puluhan tahun belajar, malah sudah sarjana, magister, bahkan doktor! lalu apa yang telah berubah dalam diri kita? Apakah keluarga merasakan manfaat dari ilmu kita? Apakah mahasiswa, murid, tetangga, dan masyarakat menjadi lebih baik karena kehadiran kita? Jangan sampai perpustakaan kita penuh dengan buku, tetapi kehidupan kita kosong dari keteladanan. Sebab manusia lebih mudah tergerak oleh satu amal yang tulus daripada seribu nasihat yang tidak dipraktikkan.

Semoga mulai hari ini kita tidak hanya bertanya, "Apa yang sudah saya pelajari?", tetapi juga bertanya, "Apa yang sudah kita amalkan?" Karena pada akhirnya, Allah tidak hanya akan menanyakan apa yang kita ketahui, tetapi juga bagaimana kita menggunakan ilmu itu untuk mendekat kepada-Nya dan memberi manfaat bagi sesama. Semoga

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama