Cinta Ibadah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 8 Rabiul Awal 1444

Cinta Ibadat
Saudaraku, sebagai bukti kecintaan pada Allah, kecintaan pada Islam, kecintaan pada syariat dan kecintaan pada iman adalah cinta ibadat. Inilah latar mengapa muhasabah hari ini diracik di bawah judul cinta ibadah.

Cinta ibadah musti mewujud dalam praktik nyata di kehidupan kesehariannya. Artinya seluruh aktivitas hidup manusia sejak sekarang hingga suatu saat dipanggil ke haribaanNya,  dari tahun ke tahun, dari bulan ke bulan, dari hari ke hari, dari tidur di dini hari hingga mau tidur lagi di malam hari semestinya bernilai ibadah.

Bagaimana cara praktisnya? Saat tidur dan saat bangun tidur kita panjatkan doa. Saat tidur, sejatinya kita menjalani “mati”, makanya ketika bangun tidur kita memajatkan rasa syukur kepada Allah yang telah menghidupkan kembali. Dan tidak seorangpun di antara manusia yang bisa memastikan kapan Allah akan tetap menahan dengan memanjangkan tidurnya buat selamanya atau membangunkannya kembali di keesokan harinya. Maka ketika bisa bangun tidur, berarti kita hidup lagi. 

Kitapun berdoa alhamdulillahi ladzi ahyana bakdama amatana wa ilaihi nusur. Segala puji dan sanjungan hanya berpulang kepada Allah yang telah membangunkan kembali dari tidur kita; Allah telah menghidupkan kembali setelah kematian sementara sebelumnya, dan hanya kepadaNya jua tempat berpulang segala yang ada.

Saat setelah bangun tidur sampai tidur kembali, tentu kita bergerak atau melakukan aktivitas keseharian dalam hidup ini. Tetapi gerak atau aktivitas yang bagaimana? Tentu gerak dan aktivitas yang punya makna dan memiliki tujuan. Bila makna gerak dan aktivitas adalah memberi kemanfaatan pada sesama manusia, maka tujuan gerak adalah menuju keridhaan Allah swt saja. Inilah pengabdian seorang hamba.

Apalagi sudah sangat jelas, Allah menuntun kita dalam firmanNya yang berati Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(Qs. Al-Dzariyat 56). 

Berdasarkan normativitas Islam di atas di antaranya dapat dipahami bahwa seluruh aktivitas hidup manusia sejak lahir hingga wafat, dari tahun ke tahun berikutnya, dari bulan ke bulan berikutnya, dari hari ke hari, dari tidur hingga mau tidur lagi semestinya bernilai ibadah dalam rangka mengabdi pada Ilahi Rabbiy. 

Tentu saja, dalam konteks ini, ibadah musti dipahami secara luas yakni mengakomodasi seluruh aktivitas manusia yang dilandasi dengan niat lillah, dilakukan atas dan untuk meraih ridha Allah. Jadi niat baik itu penting, tapi tak memadahi sampai ia benar-benar mewujud dalam amal shalih, baik zahir maupun batin.

Pemenuhan rukun iman (beriman pada Allah, malaikat, rasul, kitab, hari akhir dan qadha qadar) dan rukun Islam (syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji) dan ritual yang langsung disebut dalam nash atau dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw merupakan ibadah mahdhah, sedangkan segala amalan yang diizinkan oleh Allah, yang dalam pelaksanaannya dilandaskan dengan niat untuk mencari keridhaanNya merupakan ibadah ghairu mahdhah. 

Dengan demikian seluruh aktivitas manusia dalam hidup ini dapat bernilai ibadah. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama