Muhasabah 3 Rabiul Awal 1444
Cinta al-Qur'an
Saudaraku, di samping kepada din al-Islam, maka kecintaan terhadap al-Qur'an juga merupakan bukti cinta kepada Allah. Mengapa? Ya, karena al-Qur'an itu kalamullah atau firman Allah atau perkataan Sang Kekasih, apalagi di dalanya sarat dengan pesan kebaikan. Jadi apapun yang namanya pesan kekasih maka pasti dicintainya. Di samping itu, karena Allah juga memerintahkan agar kita mencintai al-Qur'an, baik tersurat maupun tersirat.
Tentang cinta, terdapat ungkapan hikmah bahwa "Sesiapa yang mencintai maka dia adalah tawanan dari yang dicintainya". Demikian pula, seorang yang mencintai Al-Qur’an, hatinya senantiasa akan terpaut untuk selalu dekat bersamanya, merasa nyaman dengannya, ia bagaikan "tawanan" Al-Qur’an yang tidak bisa lepas darinya; membaca, memahami dan mengimplementasikan isi kandungannya serta mewariskannya.
Dengan demikian secara agak sistematis, mencintai al-Qur'an dapat diilustrasi berikut ini. Pertama, mengimani. Mengimani al-Qur'an dengan meyakini bahwa Al-Qur’an sebagai kalamullah merupakan kitab suci penyempurna terhadap kitab-kitab suci sebelumnya, baik Zabur, Taurat maupun Injil. Oleh karenanya dengan mengimani al-Qur'an, kita sudah mengimani kitab suci-kitab suci sebelumnya.
Kedua, mempelajari al-Qur'an dan mengambil mutiara hikmahnya. Karena al-Qur'an berbahasa Arab, yang bukan bahasa ibu bagi selain orang Arab, maka diperlukan niat dan ikhtiar untuk mempelajarinya lebih serius, dan dituntun untuk terus mempelajarinya. Mulanya belajar untuk bisa membaca huruf, bahasa dan lafalnya. Selajutnya belajar mendawamkan dalam membacanya, meski belum bisa memahami isi kandungannya sekalipun. Syukur-syukur betikhtiar menghafalnya sesuai dengan kemampuannya. Berikutnya penting untuk terus belajar membaca lebih kreatif dengan menyertakan pembacaan terhadap isi kandungannya.
Ketiga, memedomani al-Qur'an. Di antara langkah konkret memedomani Al-Qur’an adalah dengan mengembalikan segala sesuatu dan urusan hidup dan kehidupan ini kepada Al-Qur’an. Dengan ini diharapkan seluruh aspek dalam kehidupannya mengikuti petunjuk Al-Qur'an (dan tentu juga hadits).
Karena sifatnya sebagai hudan, maka Al-Qur'an menyediakan pedoman, memberi arah bagaimana manusia menjalani hidup agar meraih kebahagiaan, agar sejahtera, agar meraih kesuksesan, agar selamat sampai pada tujuan hidupnya. Oleh karenanya manusia dituntut untuk mempelajari al-Qur'an dan memedominya.
Keempat, menghadiahkannya. Sepertinya pemberian - atau apapun namanya - al-Qur'an kepada sesama saudara atau ke masjid dan tempat-tempat pengajian musti digalakkan, sehingga dapat mengjangkau ke komunitas muslim di manapun berada. Karena kita masih menjumpai al-Qur'an yang mushafnya sudah lapuk dimakan usia atau rusak dan tidak lengkap yang harus selalu dibaca karena ketiadaan pengadaan mushaf yang baru.
Kelima, mengajarkannya. Di samping menghadiahkan al-Qur'an, maka akan lebih elok bila juga mengajarkannya. Seberapapun penguasaan kita terhadap al-Qur'an, maka berkewajiban mengajarkannya pada sesama, tentu, terutama pada keluarga kita, anak cucu kita.
Itulah di antara sikap kita dalam mencintai Al-Qur'an yang mewujud pada perilaku konkret yang dalam keseharian. Tentu, termasuk cinta Al-Qur'an, juga dengan menjaga - dalam makba yang luas - dari pandangan, intrik-intrik dan sikap yang melecehkannya. Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai al-Qur'an. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian