Cinta Allah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 1 Rabiul Awal 1444

Cinta Allah
Saudaraku, di bulan kemuliaan Rabiul Awal ini rasanya elok bila kita melakukan muhasabah cinta; cinta Allah kepada kita dan cinta kita pada Allah. Apalagi bulan ini dikenal sebagai bulan kelahiran Nabi (maulid nabi), sebagai di antara curahan cinta kasih Allah kepada hamba-hambaNya.

Ya, Allah sebagai al-Wadud adalah zat yang maha mencintai makhlukNya, apalagi hamba-hambaNya yang taat kepadaNya. Dengan cintaNya, Allah menciptakan dan menghidupkan manusia serta menyediakan seluruh kebutuhan hidupnya. Setelah manusia dapat memenuhi kebutuhannya, ada di antaranya yang justru melupakanNya, namun Allah tetap mencintainya. Di atas segalanya, agar tidak salah jalan untuk meraih bahagia, Allah mengutus para nabi, teristimewa Nabi Muhammad saw dan menurunkan al-Qur'an.

Allah berfirman yang maknanya, Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mencintai hamba-hamba-Nya.” (Qs al-Buruj 13-14).

Dengan cinta kasihNya juga, Allah menunggu pertaubatan hamba-hambaNya  seraya menyeru agar segera kembali ke jalanNya saja dan memohon ampunan padaNya. Allah berfirman yang artinya, Dan mohonlah ampun kepada Rabb-mu (Allah) kemudian bertaubatlah kepada-Nya, sesengguhnya Rabb-ku Maha Mencintai hamba-hamba-Nya lagi Maha Pengasih (Qs. Hûd 90)

Dan secara substantif ""kembali kepada Allah" itu juga bermakna wafat menghadap ke hadiratNya. Sehingga terhadap keluarga atau seseorang yang wafat kita pun sering berdoa "Allah lebih mencintai hamba-hambaNya".  "Allah lebih mencintai ayah atau anak kita yang sudah dipanggil ke haribaanNya. Demikian juga guru-guru kita. Dalam beberapa hari ini saja telah berpulang ke Allah Sang Kekasih guru kita Prof Azyumardi Azra, Yusuf al-Qaradhawi, Abu Tumin.

Begitu besar cintaNya Allah ke atas manusia. Lalu bagaimana respon manusia kepada Allah Rabbuna? Sebenarnya jawabannya mudah, yakni mestinya juga mencitaiNya, bahkan dengan musti cinta sejati, cinta yang tak terbagi, cinta yang tak tertandingi. Bagaimana caranya? Nah, jawabannya saya nukil dari nasihat Imam Hasan al-Bashri. Ketahuilah bahwa kamu tidak mampu mencintai Allah sampai kamu gemar menaati-Nya.

Nasihat tersebut didasarkan pada Al-Qur'an, Allah berfirman yang artinya Katakanlah (Wahai Rasulullah), Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.(Qs. Ali Imran 31)

Jadi setidaknya terdapat dua kata kunci yang berkelindan saling melengkapi satu dengan lainnya, yaitu cinta dan menaati Allah. Cinta harus mewujud pada ketaataan. Dan ketaatan melahirkan rasa cinta. Mencintai Allah harus dibuktikan dengan kesenangan dalam menaatiNya. 

Bila dianalogikan, orang yang jatuh cinta kepada seseorang, maka ia akan bersenang hati melakukan apapun permintaannya dan menghindari apapun yang dibencinya, bahkan yang sulit sekalipun. Demikian juga halnya mencintai Allah.

Secara agak lengkap, di antara bukti mencintai Allah tercermin dalam kehidupan kesehariannya. Pertama, hasrat dan keinginan untuk sesering mungkin atau selalu bertemu dan bersamaNya. Di samping melalui shalat baik yang wajib maupun sunat, juga mengorientasikan semua aktivitas hidupnya hanya untuk menggapai keridhaanNya.

Kedua, suka mengingat dan menyebut asmaNya. Hal ini sama halnya ketika kita menyayangi seseorang, maka kita gemar mengingat-ingat dirinya, kehadirannya, senang menyebut-nyebut namanya saat berjauhan. Ada perasaan damai dan bahagia saat mengingat dan apalagi bersamanya. Demikianlah di antara perilaku orang yang tengah jatuh cinta. Begitu juga halnya dengan Allah, kita senang melakukan zikrullah. Allah ya Waduud.

Ketiga, bergetar hati karena bertambah-tambah keimanan kepadaNya saat mendengar namaNya disebut dan firmanNya dilantunkan. Apalagi disebut asmaNya saat hati kita asyik mansyuk mengingatNya, ada perasaan trenyuh menyelinap di kesadaran insani kita bahkan tak kita sadari air mata membasahi pipi. Inilah tangisan yang justru paling membahagiakan.

Keempat, bergembira hati melakukan apapun untuk memenuhi keinginanNya, bahkan yang sulit sekalipun. Dan sebaliknya, dengan senang hati menjauhi apapun yang menjadi laranganNya. Jadi melakukan atau meninggalkan sesuatu dapat menunjukkan derajat kecintaan terhadap Allah sebagaimana nasihat Imam Hasan al-Bashri.

Kelima, mengindahkan pesanNya. Karena pesan Allah kepada manusia termaktub dalam Al-Qur'an, maka orang yang mencintaiNya akan terus membaca pesan-pesanNya yang terkandung dalam ayat demi ayat dan mengindahkan pesan di dalamnya.

Keenam, bersama dan menyayangi orang-orang yang dicintai-Nya. Sebagaimana perhatian dan cinta Allah kepada anak-anak yatim, orang miskin, orang-orang yang jihad fi sabillah lainnya, maka begitu juga kita yang mencintaiNya.

Kelima, mengindahkan pesanNya. Karena pesan Allah kepada manusia termaktub dalam Al-Qur'an, maka orang yang mencintaiNya akan terus membaca pesan-pesanNya yang terkandung dalam ayat demi ayat dan mengindahkan pesan di dalamnya.

Keenam, bersama dan menyayangi orang-orang yang dicintai-Nya. Sebagaimana perhatian dan cinta Allah kepada anak-anak yatim, orang miskin, orang-orang yang jihad fi sabilillah lainnya, maka begitu juga kita yang mencintaiNya.

Dengan demikian dalam ranah iman, cinta merupakan salah satu karunia Allah yang sangat penting. Makanya cinta idealnya dipahami sebagai perasaan kasih sayang yang kuat terhadap Allah sehingga cenderung ingin selalu berkorban, memiliki rasa empati, perhatian, kasih sayang, ingin membantu (titah/agamaNya) dan mau mengikuti apapun yang titahkanNya. 

Namun karena cinta itu sangat mempribadi, maka pemahanan dan implementasinya juga sangat subjektif; bergantung pada penghayatan dan pengalaman yang dialaminya masing-masing hamba. Dalam tradisi esoterik, ajaran tentang cinta kepada Allah atau mahabbah pernah mencapai momentumnya pada diri Rabiah al-Adawiyah, sehingga sangat melegenda. 

Nah, cinta kepada selain Allah, baik kepada keluarga, tahta, harta maupun dunia lainnya, idealnya juga dalam rangka lillah; karena Allah, untuk memenuhi titah Allah dan senantiasa berada di jalan Allah. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama