Sri Suyanta Hara
Muhasabah 30 Safar 1444
Amanah Kehidupan
Saudaraku, tak seorangpun di antara kita yang dilahirkan ke dunia ini sia-sia atau karena "kecekaan sejarah", misalnya. Kita semua dilahirkan di atas bumi ini tentu membawa pesan dan punya makna. Setiap diri kita amat sangat berharga, baik dalam ranah sosiokultural masyarakat kita maupun apalagi di lingkungan keluarga tercinta. Bahkan dalam pandangan Islam, manusia itu "citranya Tuhan" di muka bumi. Karenanya manusia mengemban amanah kehidupan. Tentang hal ini, sudah selama sebulan ini forum muhasabah telah membersamai menyegarkan ingatan kita agar lebih amanah mengembannya.
Amanah kekhalifahan merupakan peran dan tanggungjawab yang mula sekali diingatkan. Bacalah al-Qur'an dengan sangat apik mengemas kisah awal penciptaan manusia yang dinobatkan sebagai pengemban amanah kekhalifahan ini. Hal ini dapat dibaca kembali dalam muhasabah ke-1 bulan ini. Sebagai khalifah di muka bumi, manusia musti mengemban amanah memakmurkan bumi (muhasabah ke-2),
dan mengelolanya baik-baik (muhasabah ke-3). Semua ini agar keasrian, kelestarian bumi dan kebermanfaatannya dapat diwarisi diwariskan oleh antar generasi. Oleh karenanya penting diingatkan kembali tentang amanah mewarisi mewariskan bumi oleh antar generasi (muhasabah ke-4). Untuk mampu mewarisi dan mewariskan nilai-nilai kebaikan lazimnya dilakukan melalui pendidikan sehingga pemenuhan amanah pendidikan menjadi niscaya (muhasabah ke-5).
Di samping itu, sebagai khalifah manusia juga mengemban amanah membangun bumi menata negeri (muhasabah ke-6) dan mengemban amanah kepemimpinan satu atas lainnya (muhasabah ke-7). Agar ini bisa ditunaikan dengan baik, maka amanah kehidupan yang amat penting yang musti dikukuhkan juga adalah filosofi gerak (muhasabah ke-8). Ya, bergerak dinamis yang berorientasi pada ridha Allah. Oleh agama, gerak seperti ini sejatinya merupakan makna beramal shalih (muhasabah ke-9), yang dioroyeksikan dapat menerangi diri juga sesamanya (muhasabah ke-10). Hal ini juga untuk menegaskan pentingnya kita saling berwasiat tentang kesabaran dan takwa sehingga bisa saling mensurgakan satu dengan lainnya (muhasabah ke-11).
Di antara amalan yang musti dikukuhkan dalam kehidupan praksis adalah kemestian berbuat baik (muhasabah ke-12), berakidah yang lurus (muhasabah ke-13), berislam yang kaffah (muhasabah ke-14), sehingga mampu melahirkan tatanan kemuliaan sampai terwujud peradaban Islam yang adi luhung (muhasabah ke-15).
Bila peradaban sudah berhasil diraih, maka ia menjadi bagian yang bisa mensejarah (muhasabah ke-16) yang akan terus dikaji, dikenang dan diteladani. Dalam praktiknya, capaian ini meniscayakan kita saling berfastabiqul khairat, berkompetisi dalam kebaikan (muhasabah ke-17). Dan agar dapat kompetitif, maka tuntutan berkualitas menjadi keniscayaan (muhasabah ke-18). Dengan kualitas diri yang memadahi, tentu akan meraih prestasi demi prestasi (muhasabah ke-19).
Tentu, segala capaian yang dapat diraih oleh manusia sejatinya merupakan anugrah Allah yang harus terus disyukuri (muhasabah ke-20). Dan sebagai bukti syukurnya hamba kepada Allah adalah meneguhkan ketaatan hanya kepadaNya (muhasabah ke-21), ridha atas segala ketentuanNya (muhasabah ke-22), senantiasa berdzikir menyebut asmaNya (muhasabah ke-23), berikhtiar menjadi lebih baik (muhasabah ke-24), senantiasa berdoa (muhasabah ke-25) dan bertawakal atas segala putusanNya (muhasabah ke-26).
Semua ini layak menjadi bahan renungan agar kita menjadi lebih bijak bersikap. Ya, merenungi hal ikhwal diri guna memperbaiki relasi dengan Ilahi. Di samping itu tentu harus merenungi semesta agar mudah hidup di atasnya. Dalam bahasa ak-Qur'an, kita juga mengemban amanah bertafakur (muhasabah ke-27), kesempatan bertadabur (muhasabah ke-28).
Senarai panjang amanah kehidupan di atas atau bahkan narasi yang tak mampu dibahasakan lagi merupakan refleksi dan bukti bahwa kita dihadirkan di dunia ini mengemban amanah untuk mengabdi hanya pada Ilahi (muhasabah ke-29). Bila ini direnungkan, maka sejatinya inilah amanah kehidupan kita di atas bumi ini (muhasabah ke-30). Tinggal bagaimana kita menunaikannya dengan cerdas, ikhlas, bertanggungjawab dan istikamah. Semoga kita mampu mengembannya secara amanah. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian