Amanah Menyejarah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Uro Raya 16 Safar 1444

Amanah Menyejarah
Saudaraku, ketika dapat hidup mengusung makna sehingga dengannya mampu berkontribusi turut mewujudkan tatanan kemuliaan yang menjadi cikal-bakal terbentuknya peradaban yang adi luhung, maka sejatinya amanah "menyejarah" menjadi nyata.

Hidup ini bagai air, ia mengalir, mengairi, sejuk menyegarkan, bergerak maju bahkan menembusi batu cadas juga karang, memberi solusi, menutupi segala lubang kekurangan dalam kehidupan. Ketika ini dapat istikamah dilakukan, maka sejatinya kita sudah merajut hari-hari dalam kehidupan ini dengan benang emas meski tetap saja ada dinamikanya. Dalam tradisi keilmuwan profetik, esensi seperti ini sejatinya kita sudah membuat sejarah yang cemerlang. 

Amanah menyejarah tentu harus diemban oleh setiap orang, agar hidupnya melampaui usianya. Betapa kita menghafal nama para nabi teristimewa Nabi Muhammad saw, kiprahnya dalam pentas kehidupan di altar semesta bahkan sampai tanggal hari lahir dan wafatnya. Kita pelajari sejatahnya, kita berusaha mengambil ibrahnya, kita juga beruaha meneladani akhlaknya. 

Meski panjang usianya enam puluhan, tetapi hidupnya penuh makna karena ketinggian akhlaknya dan keluasan kebermanfaatannya di semesta, maka keberkahan hidupnya melampaui usianya. Begitu juga tokoh-tokoh lainnya yang senantiasa menghiasi catatan, buku-buku dan pada ingatan manusia, sehingga ada ungkapan bijak setiap masa ada orangnya dan setiap oranh ada masanya.  

Tentu, masing-masing diri lazim memiliki dan meliwati rekaman pengamalan dan pengalaman yang sangat beragam di hari-hari yang tersedia. Oleh karenanya hidup itu sejatinya membuat sejarah  Bagaimana sejarah diri, sejarah keluarga, sejarah desa, sejarah daerah dan bangsa negara kita sangat bergantung pada kita dan orang-orang yang dihadirkan pasa saatnya. Nantinya akan ditulis dengan tinta emas atau hilang begitu saja.

Secara khusus, sejarah diri sangat bergantung pada bagaimana kita menulisinya. Sejarah hidup masing-masing kita tentu berisi catatan pengamalan dan pengalaman hari-hari dalam kehidupan ini. Secara akademik, catatan ini agar lengkap lazimnya meliputi 5w 1h (what, when, where, who, why dan how).

Namun, barangkali sebagian besar pengamalan dan pengalaman hari-hari dalam kehidupan ini yang dilalui oleh setiap diri tidak ditulis, dan kalaupun dituturkan sehingga menjadi tradisi tutur (bercerita), maka "diri kita" atau "hidup kita" lambat laun akan hilang atau bergeser dari fakta yang sebenarnya.  Di sinilah pentingnya tradisi tutur dibarengi dengan tradisi tulis sehingga langgeng.

Kita bisa mengetahui banyak hal tentang masa lalu beserta orang-orangnya karena ada tradisi tulis. Oleh karenanya agar hidup kita bisa panjang, maka pengamalan dan pengalaman hari-hari dalam kehidupan ini sebaiknya ditulis atau minta dituliskan. Persoalan sejarah hidup diri kita dibaca atau tidak, biarlah alam (pikiran antar generasi) yang menyeleksinya. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama