Muhasabah Puncak Hari Putih, Ayyamul Bidh Ke-3, 15 Safar 1444
Amanah Berperadaban
Saudaraku, bersesuaian dengan puncak purnama yang di antaranya mengajarkan kesempurnaan, baik bentuk lahiriyahnya maupun substansi pancaran cahayanya, maka izinkan forum muhasabah hari ini mengulang tentang kesempurnaan capaian umat Islam, yakni peradaban yang adiluhung.
Apalagi ketika iman, Islam, dan ihsan merupakan tiga pilar tatanan kemuliaan religiusitas sebagaimana diingatkan dalam muhasabah yang baru lalu telah merefleksi dalam kehidupan, baik dalam kehidupan pribadi/ fardiyah maupun jama'ah, baik personal maupun komunal, maka sejatinya lahirnya peradaban menjadi niscaya. Inilah latar mengapa muhasabah hari ini diracik di bawah judul amanah berperadaban. Jadi amanah ini musti diemban bersama-sama. Artinya masing-masing diri secara etis berkonstribusi dengan beriman, berislam dan berihsan secara istikamah mesti juga proporsional. Inilah peradaban yang dibangun atas dasar religiusitas seluruh sivitas warga bangsanya.
Sebagaimana diketahui bahwa inti dari perababan terangkai dari kata dasarnya yaitu adab dipahami sebagai ketinggian akhlak, ketaatan pada norma atau aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan atau norma Islam. Norma atau aturan ini dapat secara istikamah dipraktikkan dalam pergaulan antarmanusia, antartetangga, antarmasyarakat, antarorganisasi sosial, dan antarnegara bangsa di dunia ini.
Peradaban Islam yang adiluhung tentu bukan sebatas utopia, namun sebagai capaian atau setidaknya proses yang terus menerus harus diupayakan oleh hamba-hambaNya saat hidup di dunia ini, meski dengan perjuangan dan jatuh bangun sekalipun. Dengan peradaban inilah sejatinya eksistensi dan jati diri bangsa dikukuhkan. Lihatlah bagaimana peradaban dari berbagai-bagai bangsa eksis, dipelajari, dikenang dan dihidupkan kembali.
Pilar religiusitas yakni iman, Islam dan ihsan musti merefleksi recara luwes dan luas. Karena ini menjadi pilar utama yang musti bersinergi dengan praktik baik lainnya. Dalam hal ini Allah berfirman yang artinya, Kamu sekalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah (QS. Ali-‘Imran 110).
Setidaknya terdapat tiga gerakan untuk terbangunnya peradaban, yaitu adanya gerakan transendensi, gerakan indepedensi dan gerakan humanisasi. Pertama, gerakan transendensi. Gerakan ini dimaksudkan untuk mengukuhkan aspek religiusitas yang didasari atas iman yang kokoh. Iman musti mewujud secara nyata dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Aspek keimanan yang sudah melekat menghunjam di hati musti dibawa ke mana-mana, bukan hanya saat di mesjid atau saat shalat saja, tetapi juga saat berjual beli di pasar atau mal, saat olah raga, ketika olah data di kantor-kantor, ketika mengajar di lembaga pendidikan, saat di jalan raya, saat berkendara, ketika di kamar tidur, saat makan minum, bahkan saat di kamar kecil sekalipun.
Mengapa? Ya, karena dengan iman, ia akan menuntun kita untuk menapaki jalan keridhaanNya saja, bersama iman ia akan menunjuki kita jalan yang benar mesti terkadang nampak sulit untuk kita penuhi dan jalan yang salah meski terkadang nampak mudah untuk kita liwati. Orientasi hidup mestinya hanya pada keridhaanNya saja, tidak yang lainnya.
Kedua, gerakan indepedensi. Gerakan kedua ini dimaksudkan untuk mengukuhkan kondisi sosial kemasyarakatan dan budaya yang merdeka, bersih dan bebas dari unsur-unsur kejahiliyahan. Teologi pembebasan harus efektif membentengi dan membersihkan anasir kejahiliyahan yang (mungkin saja) masih terjadi dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Gerakan pembebasan ini mengakomodir dan menjamin kehidupan ekonomi, politik, sosial, budaya, agama steril dari unsur-unsur destruktif, ribawi, manipulatif, dan hal-hal yang kontra produktif lainnya. Usahanya sendiri dapat dimulai dari masing-masing individu, lalu keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Ketiga, gerakan humanisasi. Pilar ini penting untuk melahirkan peradaban yang bisa menjamin terselenggaranya proses memanusiakan manusia seperti dalam bentuk pendidikan, pengajaran dan dakwah. Manusia hanya tetap disebut manusia ketika berada dalam kebaikan, ketika dalam kefitrahannya. Oleh karena itu ketika manusia berkubang dalam dosa karena kelemahannya, maka ia tak ubahnya binatang ternak yang kerjanya hanya makan tidur dan beranak pinak, lalu disembelih oleh tuannya. Dan ketika manusia terlibat dosa karena kejahatannya, maka ia tak ubahnya setan yang kerjanya hanya menghasut, mengadu domba, dan mencelakakan pihak lain.
Demi mempertahankan eksistensi jati dirinya sebagai manusia, maka usaha memanusiakan manusia menjadi penting. Usaha ini harus dilakukan secara simulthan dari segi pelaksanaannya, pendekatannya, strateginya, metodenya, caranya, tekniknya, materinya, maupun sarana prasarananya. Terjalin berkelindanya satu aspek dengan lainnya harus sistemik bersinergi menggapai tujuannya.
Secara individual maupun kolektif, setiap orang dalam posisi dan perannya masing-masing mesti berkontribusi positif pada proses dan pencapaian tujuan peradaban yang diinginkan. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian