Amanah Ridha

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 22 Safar 1444

Amanah Ridha
Saudaraku, di samping ketaatan, bukti bersyukur itu juga bersikap legowo atau ridha. Ya, sikap menerima apapun ketetapan dari Allah dengan hati lapang. 

Di antara keyakinan yang musti terhunjam di hati sanubari bahwa capaian manusiawi dan atau ketentuan Ilahi apapun tentu membawa pesan "yang terbaik" bagi hamba-hambaNya. Oleh karenanya, ia mustinya menjadi energi positif yang terus mendorong setiap hambaNya untuk bersikap baik dan melakukan yang terbaik untuk diri dan sesamanya. Tentu, di antaranya ridha.

Meskipun demikian terkadang, memang ada saja orang yang sulit sekali bersikap ridha, sehingga malah su'udhan saja bawaannya. Misalnya ada seseorang bercita-cita menjadi guru sekolah/madrasah, sehingga berusaha menempuh studi yang relevan. Tetapi setelah lulus, tidak ada lowongan untuk pekerjaan yang diinginkannya. Dalam benaknya "ke mana mau dibawa selembar ijazah yang sudah digengannya".  Untuk menghibur diri, lalu berusaha melanjutkan studi meski dengan susah payah nyambi bekerja serabutan karena tidak didukung oleh perekonomian keluarga.

Eh, rupanya setelah menyelesaikan kuliah, Allah punya rencana lain sebagai ketetapanNya, justru ia diangkat menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi. Jadi ketika "tidak ada lowongan penerimaan pekerjaan yang diinginkannya" ternyata menjadi kondisi terbaik, agar berikhiar lagi melanjutkan studi. Dan, benar kiranya, Allah punya rencana lain, yakni menjadikan ia sebagai dosen, atau guru di perguruan tinggi. 

Seandainya dulunya ada lowongan guru sd/min dan diterima, maka bisa saja menjadi guru sd/min. Tetapi Allah rupanya berkehendak lain, menganugrahi lebih dari yang diminta. Bercita-cita jadi guru sd/min, kenyataannya justru menjadi dosen atau guru PT, atau gurunya para guru sd/min yang studi lanjut lagi.

Kita juga diingatkan oleh Allah dalam firmanNya, yang artinya Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Qs. Al-Baqarah 216)

Begitulah ketetapan Allah atas hamba-hambaNya. Kenyataan seperti ini tentu memberi ibrah bahwa Allah maha bijak, maha mengetahui dan maha pengasih penyayang terhadap hamba-hambaNya. Semoga kita menjadi di antara hamba yang ridha atas seluruh karunia dan ketetapanNya. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama