Muhasabah 23 Safar 1444
Amanah Ingat Allah
Saudaraku, di samping ketaatan dan bersikap legowo, bukti bersyukur itu juga ingat pada Allah. Mengapa musti ingat pada Allah? Ya, karena Allah sangat peduli terhadap kita. Hal ini terbukti pada banyaknya nikmat tercurah pada kita.
Pertama, nikmat iman dan Islam. Dalam hal ini Allah dengan kasih sayangNya telah menetapkan hidayah iman Islam dan inayahNya atas kita, sehingga kita istikamah dalam ketaatan kepadaNya. Tanpa hidayah dan inayahNya, niscaya sia-sia hidup kita. Karena hidup bisa bermakna hanya dengan bersama (ridha)Nya saja.
Untuk ini, di antara pertanyaan muhasabahnya, apalah makna panjang usia, bila hanya hidup tidak memeluk makna apa-apa? Apalah artinya melimpah harta dan tingginya tahta bila dengannya tidak bisa membantu kita meraih surga? Apalah guna segudang ilmu yang ditandai sederet gelar akademik di depan dan belakang namanya bila dengannya tidak membawa diri semakin dekat pada Allah Rabbuna?
Kedua, nikmat sehat dan kuat. Dengan kemahamurahanNya, Allah mengaruniai kesehatan dan kekuatan sehingga kita dapat mengemban amanah kehidupan, baik sebagai hambaNya (hablum minallah) maupun sebagai bagian dari sesamanya (hablum minannas).
Ketiga, nikmat ilmu dan kearifan. Dengan kemahaluasan pengetahuanNya, Allah menganugrahi ilmu dan kearifan kepada kita sehingga meskipun hidupnya memengaruhi semesta, tetapi tetap semakin bijak bersikap, semakin dekat dan mendekat pada Allah ta'ala.
Keempat, nikmat harta tahta dan keluarga. Dengan kemahamurahanNya, Allah telah mengamanahi harta, tahta dan keluarga yang ketiga-tinganya memvasilitasi diri kita meraih kemaslahatan hidup, baik bagi diri, keluarga maupun sesamanya.
Kelima, nikmat ampunan. Dengan kemahamaafanNya, Allah menghapus jejak-jejak maksiat juga dosa kita dan menutupi segala borok diri kita di hadapan manusia, sehingga seolah tengah baik-baik saja. Padahal oleh Allah, kita dianugrahi masa agar segera bertaubat kembali ke atas ridhaNya, sebelum semuanya terlambat di tangan malaikat mencabut hayat. Ya untungnya, kita segera ingat, kitapun bertaubat.
Dan tentu akan terdapat banyak lagi alasan yang melahirkan sikap selalu ingat pada Allah dalam setiap desah nafas kehidupan kita. Di samping ujian nikmat, oleh Allah kita juga diuji sebaliknya, sehingga kita justru lebih intensif mengingatNya. Karena justru dengan ujian kita bisa naik kelas atau lulus atas keridhaanNya.
Setidaknya dengan semua argumen ini maka ingat Allah menjadi amanah kehidupan. Sebaliknya lupa Allah hanya akan mempersulit diri. Allah berfirmanNya yang artinya, Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik." (Qs Al-Hasyr 19).
Karena tidak ingat Allah, maka Allah pun tidak ingat ia, bahkan ia sendiri lupa akan dirinya. Inilah seperti dikabarkan oleh Allah, yang artinya Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan kepada Allah, maka Allah melupakan mereka (pula). (QS. Al-Taubah 67).
Tanda-tanda lupa Allah sehingga juga lupa diri adalah merasa "nyaman" saat melakukan pelanggaran, merasa "biasa-biasa saja" dalam ketidaktaatan, merasa "biasa-biasa saja" dalam dosa dan maksiat, tidak peduli pada penyakit hati yang sejatinya menggetogoti.
Semoga kita senantiasa ingat Allah, tidak melupakanNya, sehingga kitapun tahu diri, sadar diri. Ingat kepada Allah di hati, lati dan pekerti. Ingat Allah di hati mewujud dalam iman, ingat Allah di lati mewujud dalam lisan yang senantiasa berdzikir, dan ingat Allah di pekerti mewujud dalam sikap ihsan. Aamin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian
Alhamdulillah, terimakasih banyak pak
BalasHapus