Amanah Mentadaburi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 28 Safar 1444

Amanah Mentadaburi
Saudaraku, melalui tema merenungi  (mentafakuri) dalam muhasabah yang baru lalu, kita sudah diingatkan untuk sadar diri, tahu diri dan mengenal ilahi. Dengan maksud yang sama, meski melalui cara berbeda, kita juga dituntut untuk melakukan tadabbur atau mentadaburi.

Bila mentafakuri (tafakur) merupakan cara memperoleh pengetahuan tentang Tuhan dalam arti yang hakiki, maka mentadaburi (tadabur) merupakan penerawangan hati terhadap kesudahan atau akibat akan segala urusan. Dengan demikian, baik tafakur maupun tadabur, keduanya sama-sama dilakukan dengan menggunakan mata hati. Bedanya, tafakur dilakukan untuk meneliti dalil atau indikator segala sesuatu hal, sedangkan tadabur dilakukan untuk meneliti akibat-akibatnya.

Oleh karenanya kita sering mendapati tuntutan bertafakur maupun bertadabur. Ketika bertafakur kita akan sadar diri dan tahu Ilahi, maka ketika bertadabur dengan merenungkan, menghayati, memikirkan dan menghayati sesuatu, maka kita akan memperoleh pelajaran yang amat berharga. 

Di antara tuntutan yang menuntun kita melakukan tadabur, Allah berfrman yang artinya, ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka menadaburi (memperhatikan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Qs. Shad 29). 

Maka tidakkah mereka mentadaburi Al-Qur'an? Sekiranya (Al-Qur'an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya. (Qs. Al-Nisa 82)

Maka tidakkah mereka mentadaburi Al-Qur'an ataukah hati mereka sudah terkunci? (Qd. Muhammad 24)

Maka tidakkah mereka mentadabburi firman (Allah), atau adakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka terdahulu? (Qs. Mukminin 68)

Term tadabur dalam Islam seperti digambarkan dalam beberapa ayat normativitas di atas menegaskan betapa pentingnya "pembacaan kreatif" atas ayat qauliyah (tadabur Qur'an) dan kauniyah (tadabur alam) Pembacaan kreatif adalah pembacaan yang memaksimalkan mata batin, sehingga mampu menerawang sangat jauh sampai menemukan hujjah untuk kedekatan dirinya pada Allah Rabbuna. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama