Amanah Merenungi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 27 Safar 1444

Amanah Merenungi
Saudaraku, sampai di sini forum muhasabah sudah berbagi diskusi tentang bersyukur kepada Allah lengkap dengan ragam pembuktian dan tuntunan tawakalnya. Semua ini layak menjadi bahan renungan agar kita menjadi lebih bijak bersikap. Ya, merenungi hal ikhwal diri guna memperbaiki relasi dengan Ilahi. Di samping itu tentu harus merenungi semesta agar mudah hidup di atasnya. 

Secara normatif, terdapat banyak sekali tuntutan dan tuntunan dalam al-Qur’an agar manusia mau merenungi diri dan semesta; berpikir atau memikirkan segala hal yang dapat dijangkaunya. Di antaranya dapat dicermati dalam beberapa ayat, yang artinya, Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (Qs. Al-Baqarah 44)

Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (Qs. Al-Baqarah 266)

Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.

Banyak muka pada hari itu berseri-seri, merasa senang karena usahanya, dalam surga yang tinggi, tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna. Di dalamnya ada mata air yang mengalir. Di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya), dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar. Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (Qs. Al-Ghasiyah 1-20)

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (Qs. Al-Dariyat 20-21)

Itulah di antara tuntutan agar manusia merenungi diri dan hal ikhwal semesta ini. Ketika amanah ini diperankan dengan baik, maka menjadi logis bila kemuduan secara filosofis, manusia dikenal sebagai homo sapien atau makhluk yang berpikir, hayawanu nathiq atau “hewan berpikir”. 

Nah, dahsyat bukan? Iya, benar-benar dahsyat. Tetapi kedahsyatan itu bersyarat yakni kalau manusia itu berpikir atau mau menggunakan akalnya untuk merenungi diri dan semesta ini; memikirkan ciptaan Allah di altar semesta ini. 

Bisa dibayangkan, bahwa manusia itu sebagai hayawanu nathiq, “hewan berpikir”, tetapi ketika kata nathiq atau merenungi atau berpikirnya tidak ada atau tidak dilakukan, maka apa jadinya? Jadinya yang tinggal, hanya hewannya saja, bukan? Manusia itu hewan … naudzubillahi min dzalika! Oleh karenanya agar tetap sebagai manusia maka seyogyanya senantiasa berpikir, merenungi diri dan segala ciptaan Ilahi. Malah ada semboyan hikmah, “dengan berpikir maka saya ada”. Dengan demikian mafhum mukhalafahnya, seseorang yang tidak berpikir berarti ianya tidak ada. Sehingga dipahami bahwa aktivitas merenung atau berpikir menjadi salah satu ciri inti dari manusia.

Meskipun demikian masing-masing orang memiliki kemampuan berpikir yang berbeda-beda. Dan secara personal, kemampuan berpikir seseorang juga sangat dipengaruhi oleh faktor internal diri sendiri dan faktor eksternal yang melingkupinya. Maka di sinilah kemudian bisa dipahami bahwa proses berpikir itu juga dinamik yang pada gilirannya juga melahirkan ide, gagasan dan pemikiran yang dinamis juga. Artinya tidak stagnan dan tidak linier, bahkan bisa ziq zaq.

Secara historis, sosiologis, dan antropologis, merenung berpikir juga menghantarkan pada capaian-capaian yang mengesankan pada bidangnya masing-masing. Karena dengan merenung berpikir akan melahirkan teori-teori ilmu pengetahuan. Dan pada gilirannya ilmu pengetahuan, di antaranya akan melahirkan teknologi. Sehingga dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipandu oleh keimanan yang kuat, maka akan melahirkan peradaban yang adi luhung. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama