Muhasabah 29 Safar 1444
Amanah Mengabdi
Saudaraku, dalam seluruh rangkaian pemenuhan peran, tanggungjawab atas amanah kehidupan di atas bumi ini sejatinya tidak lain dan tidak bukan adalah hanya untuk mengabdi pada Ilahi. Untuk ini hampir semua kita hafal dasar normativitasnya. Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya'budụn. Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(Qs. Al-Dzariyat 56). Inilah latar mengapa tema muhasabah di ujung bulan ini diracik di bawah judul amanah mengabdi.
Berdasarkan normativitas Islam di atas di antaranya dapat dipahami bahwa seluruh aktivitas hidup manusia sejak lahir hingga wafat, dari tahun ke tahun berikutnya, dari bulan ke bulan berikutnya, dari hari ke hari, dari tidur hingga mau tidur lagi semestinya bernilai ibadah dalam rangka mengabdi pada Ilahi Rabbiy.
Tentu saja, dalam konteks ini, ibadah musti dipahami secara luas yakni mengakomodasi seluruh aktivitas manusia yang dilandasi dengan niat lillah, dilakukan atas dan untuk meraih ridha Allah. Jadi niat baik itu penting, tapi tak memadahi sampai ia benar-benar mewujud dalam amal shalih, baik zahir maupun batin.
Pemenuhan rukun iman (beriman pada Allah, malaikat, rasul, kitab, hari akhir dan qadha qadar) dan rukun Islam (syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji) dan ritual yang langsung disebut dalam nash atau dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw merupakan ibadah mahdhah, sedangkan segala amalan yang diizinkan oleh Allah, yang dalam pelaksanaannya dilandaskan dengan niat untuk mencari keridhaanNya merupakan ibadah ghairu mahdhah. Dengan demikian seluruh aktivitas manusia dalam hidup ini dapat bernilai ibadah.
Bila hidup itu harus mengabdi Ilahi, maka praktik selainnya merupakan gagal paham atau gagal produk atau bahkan gagal hidup. Artinya, bagi orang yang tidak mengabdi pada Ilahi sejatinya tak bisa disebut hidup lagi, meski masih berjalan ke sana ke sini. Coba untuk apa bila adanya tak dikira? Untuk apa hidup muspro seperti ini? Na'udzubillahi min dzalika!
Kata abdi hanya akan bermartabat, mulia dan dimuliakan ketika dikait dengan Allah Yang Maha Merajai, sehingga menjadi abdi Allah, hamba Allah, 'abdullah. Maka hamba harta ('abdul mal), hamba hawanafsu ('abdul nafs), hamba scopus, hamba manusia ('abdul nas), dan hamba setan ('abdul syaithan) menjadi tidak relevan disandang oleh manusia. Mengapa?
Ya, dikarenakan yang bersakutan telah melacurkan diri, menistakan derajat dan merendahkan martabat kemanusiaannya sendiri. Inilah mengapa kita sebagai orang-orang beriman musti saling berwasiat, dan ingat mengingatkan tentang misi pengabdian manusia pada Allahu Rabbiy.
Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian