Amanah Menerangi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 10 Safar 1444

Amanah Menerangi 
Saudaraku, di samping merujuk pada makna lahiriyah, amanah menerangi dapat bermakna substantif, tetapi dua-duanya merupakan kebajikan. Inilah mengapa sejatinya menerangi itu merupakan bagian dari amanah kehidupan.

Secara lahiriyah, betapa pentingnya aktivitas menerangi lingkungan semesta. Inilah mengapa penting digalakkan program dan gerakan memasang satu lampu di luar rumah dan atau satu lampu di pinggir-pinggir jalan. Bisa dibayangkan bila program memasang dan menghidupkan lampu penerangan di luar rumah, syukur-syukur didukung dengan kekuatan sinarnya yang relevan.

Di samping agar menerangi semesta, secara phikhis juga menerangi semesta (baca hatinya) sehingga dapat banyak membantu, memudahkan, melegakan dan membahagiakan diri dan sesamanya. Kita bisa membandingkan dengan saat suasana gelap, yang biasanya sepi, "menakutkan" dan membuat hati tak tak nyaman. Bahkan secara substantif kegelapan itu identik kekafiran dan atau bersemayamnya ragam kejahatan.

Allah beriman yang artinya; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (Qs. al-Baqarah 257).

Suasana gelap hanya cocok untuk istirahat, dan sangat kontras dengan suasana terang benderang, baik karena siang maupun karena adanya penerangan. Suasana terang melahirkan ghirah dan gairah untuk beraktivitas dan beramal secara bermakna.

Bila "menerangi" secara lahiriyah saja amat signifikan bagi kemaslahatan hidup manusia apatah lagi dalam makna substantifnya. Ya menerangi terutama ke dalam internal diri sendiri agar hati menjadi cerah mencerahkan, dan ke luar kepada sesamanya. Oleh karenanya secara substantif, menerangi sejatinya merupakan pemberdayaan internal dan eksternal.

Pemberdayaan internal dapat dilakukan dengan mensyukuri potensi diri baik fisik, akal maupun terutama hati (16:78), dan secara eksternal dapat dilakukan dengan aktivitas dakwah, pendidikan, memberi tahu akan kebajikan dan mengajaknya berbuat ihsan (74:1-7).

Dengan denikian "menerangi" itu mengakomodir makna yang luas seperti mengarahkan, memberi nasihat, menyampaikan penjelasan sehingga merasa terbantu, terbimbing, tercerahkan dan terarahkan. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama