Amanah Beramal

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 9 Safar 1444

Amanah Beramal
Saudaraku, gerak bermakna dalam hidup di dunia ini sebagaimana diingatkan dalam muhasabah yang baru lalu lazimnya membuahkan amal jariyah. Amal jariah ini bersifat investatif mengakomodir seluruh perbuatan baik yang pahalanya abadi dapat dinikmati terus menerus oleh diri dan bahkan keberkahannya dapat diakses oleh sesamanya. Inilah betapa pentingnya beramal jariyah, sehingga ia sejatinya menjadi di antara amanah kehidupan yang amat penting.

Riwayat yang amat populis mengabarkan tentang amal jariyah adalah. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim, No. 1631)

Dalam riwayat lain yang bia dinilai sebagai penguat dan penjelas riwayat sebelumnya, dari Anas ra beliau mengatakan: Rasûlullâh saw bersabda, ‘Ada tujuh hal yang pahalanya akan tetap mengalir bagi seorang hamba padahal dia sudah terbaring dalam kuburnya setelah wafatnya (yaitu) : Orang yang yang mengajarkan suatu ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanamkan kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan anak yang memohonkan ampun buatnya setelah dia meninggal.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Kasyful Astâr, hlm. 149. hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dam shahihul Jami’, no. 3602

Pertama, mewariskan ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang mendatangkan kebermanfaatan bagi diri, keluarga dan sesamanya. Bermanfaat itu maksudnya dengan ilmu itu dapat membantu, memudahkan, membahagiakan diri dan sesamanya serta muaranya dapat memvasilitasi kedekatan diri dengan Allah ta'ala.  

Dengan demikian pesan amanah beramal jariyah yang pertama ini sejatinya menuntut kita agar belajar dan mengajarkan ilmu yang telah diperolehnya. Kita diharapkan menjadi orang alim, berilmu dan mengajarkannya kepada sesama.

Mengapa ilmu yang bermanfaat ini penting? Iya, tentu. Karena dengan ilmu, maka iman di hati menjadi semakin kukuh. Dengan ilmu, maka amal kita menjadi shalih. Dengan ilmu, maka kita semakin tahu diri, tahu Ilahi, tahu mengabdi.

Kedua, bersedekah. Doktrin ini sejatinya menuntut kita agar berikhtiar, bahkan agar menjadi kaya sehingga mudah dan murah bersedekah. Bersedekah itu mudah dan murah, bisa dengan berbagi senyum keceriaan. Meski hanya dengan senyuman saja sudah dinilai bersedekah, apatah lagi dengan ilmu, pikiran, gagasan dan harta bendanya.

Dalam riwayat kedua dijeladkan contoh sedekah jariyah yakni mengalirkan sungai, menggali sumur, menanamkan kurma, membangun masjid, dan menghadiahkan atau mewariskan mushaf. Lima amalan ini sangat besar kebermanfaatannya bagi khalayak.

Ketiga, mendidik anak agar shalih. Ini sejatinya amanah pendidikan, dimana kita dituntut mendidik anak-anak kita dengan pendidikan yang baik dan berkualitas. Di samping itu tentu, menyedikan asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi adalah makanan dan minuman yang halalan thayiban dan tidak israf. Juga menyediakan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembangnya anak kita.

Dengan ragam usaha yang dibarengi dengan doa diharapkan anak-anak kita tumbuhkembang menjadi anak sehat bugar, rupawan, cerdas dan berakhlaq al-karimah. Bila anak sudah tumbuhkembang seperti ini, maka dipastikan akan senantiasa mendoakan diri, keluarga dan khususnya ayah ibundanya.

Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama