Amanah Membahagiakan

Sri Suyanta Harsa
Mujhasabah 11 Safar 1444

Amanah Membahagiakan
Saudaraku, dalam memikul amanah kekhalifahan di muka bumi, manusia juga mengemban amanah saling membahagiakan. Apalagi ketika amanah kekhalifahan dapat ditunaikan dengan baik, maka manusia akan beroleh kebahagiaan itu, baik di dunia ini maupun akhirat nanti. Karena kebahagiaan dalam bahasa agama identik dengan surga, maka bagaimana surga itu dapat diwarisi dan diwariskan oleh antar generasi. 

Inilah pentingnya hidup bahagia memberikan kebahagiaan (baca "mewariskan surga") kepada anak, anggota keluarga dan sesama. Dalam bahasa yang lebih lugas, bahagia dan berbagi kebahagiaan itu merupakan amanah kehidupan.

Secara sufistik, hidup bahagia itu hal sebagai kondisi psikologis seorang hamba atas karunia Allah ta'ala setelah sebelumnya melakukan serangkaian ikhtiar menempuh tahapan maqamat yang relevan. Di antara yang paling penting untuk ini adalah mengenal diri, mengenal Ilahi, mencintai dan menaati. 

Ikhtiar mengenali diri; siapa saya, dari mana bisa ada di sini, dan untuk apa hidup di dunia ini dan ke mana setelah tidak hidup di dunia menjadi sangat penting. Karena dengannya menjadi di antara kekuatan atau energi positif yang mendorong untuk mengenali Ilahi. Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu, sesiapa yang mengenali dirinya pasti mengenali Rabbnya (ma'rifatullah). Ma'rifatullah inilah yang menuntunnya untuk mencintaiNya. Bila sudah cinta, maka apapun bahkan seluruh hidupnya hanya akan diabdikan untukNya semata. Inilah kaifiyat meraih kebahagiaan itu.

Kebahagiaan yang dirasa idealnya dapat diakses dan juga dinikmati oleh sesamanya. Dengan bermembahagiakan orang lain, sejatinya justru akan melipatgandakan kebahagiaan pada diri sendiri. Jadi menambah rasa bahagia itu dengan membahagiakan sesamanya.

Bagaimana cara membahagikan orang lain? tersimpul dalam satu prasa berbuat baik. Misalnya membahagiakan orangtua, Allah berfirman yang artinya Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (Qs. Al-Isra 23)

Dan nembahagiakan orang lain,  Allah berfirman yang artinya  Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, "Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat." Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang. (Qs. Al-Baqarah 83)

Berbuat baik itu mengakomodir seluruh perbuatan yakni akhkaq al-karimah yang mendatangkan kebahagiaan di bawah keridhaan Rabbnya. Misalnya berbagi senyum keceriaan, berbagi rezeki, menyayangi, menghormati, saling mendoakan kebaikan, menasihati akan kesabaran dan takwa. Di samping itu itu, tentu menjauhi perilaku buruk yakni akhkaq al-madmunah terhadap sesamanya seperti menyombongi, menghina, merundungi, merendahkan, menfitnah, mengadudomba, menyesatkan dan akhlak buruk lainnya.

Semoga kita termasuk di antara hambaNya yang bahagia membahagiakan. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama