Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 12 Safar 1444
Amanah Berbuat Baik
Saudaraku, berbuat baik sebagaimana telah diingatkan dalam muhasabah yang baru lalu sejatinya kebermanfaatnya berpulang kepada dirinya. Tapi begitu juga sebaliknya ketika berbuat jahat, akibatnya pasti berpulang kepada dirinya jua. Oleh karenanya berbuat baik itu merupakan amanah kehidupan, menjauhi perbuatan jahat itu merupakan keniscayaan.
Allah berfirman yang artinya Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al Baqarah 195).
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri (Qs. Al-Isra 7)
Agar memiliki nilai tambah (+) dan terus bertambah-tambah, maka berbuat baik musti merengkuh pada empat arah dengan menserasikannya, yakni kepada Allah juga Rasulullah, kepada diri sendiri, kepada sesama manusia, dan kepada alam sekitarnya.
Pertama, berbuat baik kepada Allah. Berbuat baik kepada Allah tersimpul pada sikap syukur, sekaligus menjauhi sikap kufur. Syukur kepada Allah merefleksi pada ikhtiar memastikan terpenuhinya arkanul iman (beriman kepada Allah, malaikat, kitab suci, rasul, hari akhir dan qadha qadar), arkanul islam (syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji), dan akhlak (berdzikir, berdoa, tawakal, ridha, mahabbah dan seterusnya).
Berbuat baik kepada Rasulullah tersimpul dalam sikap mencintainya. Dengan mencitainya, kita akan mempelajari shirah kehidupannya, menaatinya, mengerjakan sunah-sunahnya, meneladaninya, dan sering berselawat ke atasnya.
Kedua, berbuat baik kepada diri sendiri. Berbuat baik kepada diri sendiri ini tersimpul pada sikap peduli diri. Peduli terhadap kebutuhan badaniyahnya, kebutuhan aqliyahnya dan kebutuhan qalbiyahnya. Jadi kita harus memastikan kebutuhan fisik, akal dan hati terpenuhi dengan baik. Apabila kewajiban pemenuhan terhadap fisik, akal dan hati ditunaikan dengan baik, maka dipastikan hak (hak sehat, hal cerdas, hak bahagia) akan diperolehnya.
Ketiga, berbuat baik kepada sesamanya yakni kepada orangtua, keluarga, istri/suami, anak, guru, tetangga, dan sanak saudara lainnya. Berbuat baik kepada sesamanya tersimpul pada sikap mencintai. Dengan mencintainya, kita akan melakukan apapun yang terbaik bagi orang-orang yang kita cintai.
Keempat, berbuat baik pada alam sekitar, baik biotik maupun abiotik, plora maupun fauna. Berbuat baik pada alam sekitar tersimpul pada sikap menyayangi. Dengan menyayanginya kita akan peduli untuk mengelola, merawat, memelihara, di samping juga nemanfaatkannya dengan baik.
Berbuat baik pada Allah, pada sesama dan pada alam sekitarnya sejatinya kebermanfaatannya juga berpulang kepada manusia, tidak pada Allah, tidak pada alam sekitar. Mengapa? Ya itu, karena oleh Allah, semua ini dicipta untuk kepentingan dan kemaslahatan manusia. Semoga kita termasuk muhsin, orang-orang yang berbuat baik. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian