Amanah Berikhtiar

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 24 Safar 1444

Amanah Berikhtiar
Saudaraku, di samping ketaatan dan bersikap legowo, ingat pada Allah, bukti bersyukur lainnya adalah  berikhtiar.  Ya berikhtiar itu melakukan usaha maksimal menjadi lebih sehat, lebih rupawan, lebih baik, lebih cerdas, lebih sukses, lebih unggul, lebih shalih, lebih maslahat, lebih taat, lebih takwa, lebih berbahagia. Inilah mengapa berikhtiar merupakan keniscayaan dalam kehidupan. Oleh karenanya ia menjadi di antara amanah kehidupan. Amanah itu tentu harus diindahkan.

Allah berfirman yang artinya Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Qs. Al-Taubah 105)

Berdasarkan normativitas di atas di antaranya dapat dipahami bahwa berikhtiar atau beramal menjadi tuntutan ilahiyah dan insaniyah. Oleh karenanya ikhtiar atau amal perbuatan musti yang baik bahkan terbaik dilakukan dalam rangka meraih bahagia di bawah keridhaanNya. Ikhtiar dan amal berbuatan yang tidak berkualitas apalagi menyalahi aturan syariat hanya akan berakibat mudharat dan mempersulit diri juga sesamanya. 

Segala ikhtiar dan semua amal akan segera jelas kebermanfaatan atau kemudharatannya, baik dalam pandangan sesamanya maupun apalagi dalam pandangan Allah Rabbuna. Makanya di ujung ayat Allah menegaskan bahwa Allah maha melihat, maha menilai dan maha mengapresiasi ikhtiar atau amal perbuatan hamba-hambaNya. Demikian juga Rasulullah dan orang-orang beriman. Dan suatu saat kelak, akan segera dikabarkan tentang hal ikhwal ikhtiar dan amal perbuatan kepada masing-masing hambaNya. Inilah mengapa berikhtiar dan beramal yang baik saja itu merupakan amanah kehidupan.

Karena sebagai amanah kehidupan, maka orang baru dikatakan hidup ketika ia berikhtiar ke arah yang lebih baik. Orang yang hidup di bumi ini tetapi tidak berusaha atau tidak ada ikhtiar, maka sejatinya sudah tidak hidup lagi. Orang-orang mati sebelum mati seperti ini keberadaannya hanya akan menjadi beban; beban keluarga, beban sosial, beban negara dan bahkan beban agama. Agar tidak menjadi beban, maka wajib berikhtiar; berusaha, memeluk etos kerja, mau berjuang di tengah kerasnya kehidupan.

Secara esoterik sufistik, ikhtiar itu ranahnya hamba oleh karenanya disebut maqam, sedangkan hasil perolehannya disebut hal atau ahwal menjadi ranahnya Allah Rabbuna. Oleh karenanya kita berikhtiar menjadi yang terbaik dalam hal apa saja, tetapi putusan dan hasilnya kita pulangkan sepenuhnya pada Allah Rabbuna. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama