Amanah Berislam

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Hari Putih ke-2,14 Safar 1444

Amanah Berislam
Saudaraku, sebagaimana telah diingatkan dalam muhasabah yang baru lalu bahwa keberimanan yang kukuh merefleksi pada lati (lisan) dan pekerti. Praktiknya mewujud dalam sikap keberislaman. Jadi keberislaman merupakan amanah kehidupan. Inilah latar mengapa muhasabah hari ini diracik di bawah judul amanah berislam.

Berislam itu ya memeluk agama Islam dengan sepenuh hati, dan berusaha melaksanakan ajarannya dalam seluruh aspek kehidupan di dunia ini. Allah berfirman yang artinya Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam agama Islam secara kaffah. (Qs. Al-Baqarah 208)

Bila kita cermati tuntutan berislam pada normativitas yang artinya tertera di atas, maka thalabnya justru ditujukan kepada orang-orang yang sudah beriman. Jadi aspek keimanan inilah yang mestinya mewujud dalam praktik keberislaman seseorang. Artinya bangunan keberislaman yang menyempurna itu musti ditegakkan atas dasar-dasar iman. 

Bila iman di hati sudah kukuh, maka pasti akan mewujud pada praktik berislam (bersyadatain, menunaikan shalat, mengerjakan puasa, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji), dan berperilaku keseharian dalam bidang politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, praktik pendidikan dan seluruh aspek kehidupannya dengan baik.

Jadi berislam itu pada seluruh aspek kehidupan; politiknya islami tidak machiavelis, hukumnya islami tidak sekuler, sistem ekonomi islami tidak ribawi, sosialnya islami tidak eksploitatif despotik, budayanya islami tidak kebarat-baratan, praktik pendidikannya juga islami tidak dikhotomik dan seluruh nafas juga gerak kehidupannya islami.

Berislam secara sempurna menjadi idealitas yang harus terus diupayakan sehingga bersifat dinamis, apalagi sisi kualitasnya. Kesempurnaan Islam dapat diupayakan, baik secara personal maupun apalagi komunal secara bersama-sama dengan saling melengkapi menyempurnakan. Semoga. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama