Muhasabah Hari Putih ke-1,13 Safar 1444
Amanah Beriman
Saudaraku, di antara pilar penting berbuat baik kepada Allah adalah mengimaniNya. Mengimani Allah, bahkan menjadi inti dari arkanul iman itu sendiri. Mengapa? Ya, kalau sudah beriman kepada Allah, maka lima rukun berikutnya pasti akan diimani juga, karena Allah atau RasulNya memerintahkan untuk itu. Bahkan sejatinya, beriman kepada Allah menjadi pangkal bangunan Islam seseorang secara keseluruhan. Mengapa? Karena iman menuntut pembuktian.
Dalam berislam, beriman itu tidak cukup di hati, apalagi hanya di lati (lisan), tetapi juga harus merefleksi di pekerti. Inilah hati, lati dan pekerti menjadi satu kesatuan sistemik bangunan kepribadian orang Islam. Bila salah satunya bermasalah, maka akan memengaruhi pada ketidaksempurnaan keberimanan seorang muslim. Keyakinan di hati dan syahadatain di lati, asyhadu anla ilaha ilallah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah, musti merefleksi pada keseluruhan aktivitas hidupnya.
Seorang muslim yang berikrar asyhadu anla ilaha ilallah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah berarti harus benar-benar hanya menaati, menyembah dan mencintai Allah saja. Semua ketaatan dan ragam rasa, karsa dan karya harus bermuara juga berlabuh padaNya saja. Allah menginginkan apapun, pasti akan dipenuhinya, karena Allah adalah Sang Kekasih. Maka segala kemauan Sang Kekasih pasti akan diupayakannya. Dan sebaliknya apapun yang membuat Sang Kekasih tidak senang apalagi murka, pasti akan ditinggalkan dan dijauhinya.
Ketika Allah bertitah "kerjakan shalat", maka kitapun shalat. Shalatlah tepat pada wajtunya, maka kitapun shalat di aeal waktu. Bila Allah memerintahkan kita untuk berpuasa, maka kitapun berpuasa. Begitu seterusnya dengan amaran lainnya. Apabila tidak mengindahkan titah Allah, maka oleh al-Qur'an bisa dilabeli munafik (lain di hati, lain di lati, beda di pekerti) atau bahkan bisa dicap mengingkari (kafir).
Nah sampai di sini, kita sebaiknya instrospeksi diri, melakukan muhasabah, sudah seberapa tingkat kesesuaian antara hati, lati dan pekerti hari-hari selama ini? Misalnya, jangan-jangan sudah mengaku beriman tapi belum shalat; mengaku beriman tapi belum taat; mengaku beriman tapi saat diuji masih berkeluh kesah; mengaku beriman tapi belum ridha atas segala ketentuanNya.
Semoga kita dianugrahi hati yang istikamah dalam iman yang lurus, merefleksi di lati dan pekerti hari-hari yang kita lalui. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian