Muhasabah 25 Safar 1444
Amanah Berdoa
Saudaraku, di samping taat, bersikap legowo, ingat pada Allah dan berikhtiar sebagaimana telah diingatkan dalam muhasabah yang baru lalu, bukti syukur lain yang musti dilakukan hamba ke atas Rabbnya adalah berdoa. Inilah latar, mengapa berdoa juga menjadi amanah kehidupan. Karena amanah, maka berdoa mustinya terpatri di hati dan merefleksi dalam lati dan pekerti sehari-hari
Ya berdoa atau memohon kebaikan kepada Allah. Apalagi, kenyataannya tak seorang manusiapun yang tidak butuh akan pertolongan Allah. Semua butuh, semua perlu dan semua menghajadkan Allah untuk disembah, dicintai, ditakuti, ditaati titahNya dan untuk dimintai pertolonganNya. Kecintaan dan ketaatan kepada selainNya idealnya sangat bergantung dan hanya bermuara pada kecintaan dan ketaatan kepadaNya jua.
Kebutuhan manusia akan Rabbnya, di antaranya ditunjukkan dengan dipanjadkannya doa. Doa dipahami sebagai permohonan atau penyampaian harapan, permintaan, seruan, puji-pujian yang ditujukan kepada Allah.
Sikap orang yang tidak pernah berdoa memohon kepada Allah, dinilai sebagai sikap angkuh dan sombong yang kesombongannya amat nyata. Karena doa bukan saja menunjukkan kelemahan dan kecilnya manusia di hadapan Allah, Rabbuna, tetapi justru sekaligus menjadi kekuatan yang maha dahsyat. Jadi berdoa yang dilakukan oleh seseorang itu justru menunjukkan kekuatan dan kehebatan dirinya sebagai wujud penghambaan pada Rabbnya.
Kita sebagai umat Islam lazimnya memanjadkan doa secara formal dan tidak formal. Permohonan secara formal dilakukan saat shalat, karena seluruh aktivitas, bacaan dan kaifiat shalat mengandung doa permohonan, puji-pujian dan harapan yang ditujukan kepada Allah swt.
Adapun permohonan tidak formal dilakukan umat Islam dalam setiap aktivitasnya secara bebas kapan saja dan di mana saja. Misalnya saat bangun tidur, akan mandi, saat bercermin dan mengenakan baju, akan keluar atau masuk rumah, menaiki kendaraan, memulai dan mengakhiri suatu pekerjaan di tempat kerja, akan makan minum, keluar masuk kamar kecil, saat bertemu dengan sesama, saat sakit juga saat sehat, saat sepi sendiri juga ketika ramai dan seterusnya. Atau saat-saat kondisi yang relevan, berdoa bersama-sama, saat “beribadah” bersama suami atau istrinya, saat akikah, saat nikah, walimatul ‘ursy, walimah safar, buka usaha atau rumah baru, dan seterusnya.
Bagi orang Islam, doa merupakan senjata yang sangat dahsyat kekuatannya. Orang Islam yang jarang berdoa berarti ia telah menyia-nyiakan senjata yang dimilikinya, padahal sangat diperlukannya.
Tentu kita musti bersyukur atas perkenan Allah terhadap permohonan yang senantiasa kita panjadkan ke haribaanNya. Tapi seandainya ada permohonan yang belum dikabulkanNya, berarti Allah menginginkan kita lebih sering lagi menyebut dan menohon kepadaNya. Dan pasti suatu saat cepat atau lambat, doa dan permohonan hamba dikabulkannya, atau digantinya dengan lainnya yang lebih maslahah bagi dirinya.
Karena doa itu permohonan atau permintaan yang dapat disampaikan secara lisan tetapi juga melalui getaran atau bisikan dalam hati, maka cukuplah diri kita sendiri dan Allah sajalah yang mendengarnya. Artinya saat berdoa tidak elok dilakukan dengan berteriak-teriak atau bersuara keras sehingga justru mengurangi kekhusyukannya. Kecuali untuk tujuan pengajaran, maka bacaan doa lazim dilakukan dengan jelas.
Allah menuntun kita di beberapa tempat dalam firnanNya. Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (Qs. al-A’raf 55)
Katakanlah: “Serulah (berdo’alah kepadaku) Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-asmaa-ul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu, dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu” (Qs.Al-Isra’ 110)
Di samping itu, agar doa dan permohonan kita diijabah oleh Allah swt, maka kita harus sadar dan tahu diri, dengan senantiasa menjaga kebersihan hati, istikamah dalam ketaatan hanya kepadaNya saja, memelihara diri dari menggunakan fasilitas atau mengonsumsi makanan minuman dan penghasilan yang makruh apalagi haram serta tidak berlebihan. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian