Amanah Memakmurkan Bumi


Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 2 Safar 1444

Amanah Memakmurkan Bumi
Saudaraku, dalam perannya sebagai khalifah, di antaranya manusia mengemban amanah memakmurkan bumi. Makanya tema muhasabah hari ini diracik di bawah judul amanah memakmurkan bumi.

Di samping memanfaatkan bumi dengan segala isinya untuk kesejahteraan diri dan sesamanya, memakmurkan bumi itu mengakomodasi aktivitas penting lainnya yakni pengelolaan terhadap sumber daya alamnya, pemeliharaan keasriannya dan pelestariannya, sehingga dapat diwarisi dan diwariskan oleh antar generasi sepanjang masa.

Dalam muhasabah yang baru lalu kita telah diingatkan bahwa manusia itu dianugrahi potensi (baca 16:78) sehingga dapat mengemban amanah untuk memakmurkan bumi. Bahkan untuk kesuksesannya, manusia (dalam hal ini Adam dan Hawa) juga dibekali dengan pengalaman yang adikodrati, yakni pernah tinggal di surga (baca 2:35).

Nah, inilah alasannya mengapa manusia  (yakni Adam dan Hawa) mulanya hidupnya di surga. Padahal sejak mula sekali Allah telah menyatakan bahwa manusia itu sebagai khalifah di muka bumi (baca 2:30). Tetapi sudah pernah di surga. Pengalaman di surga telah memberi bekal sangat berharga bagi manusia sehingga dirinya sejak kini dan di sini di dunia ini dapat menciptakan suasana surga dalam hidup dan kehidupannya, yang makmur, sejahtera, indah, santun, dalam kesibukan bermakna, bahagia dan membahagiakan.

Dengan demikian sejatinya, sebagai khalifah, manusia harus mewujudkan kesejahteraan yang telah dinikmatinya di surga, menjadi kenyataan sejak sekarang di dunia ini. Manusia sudah menikmati keindahan dan kebahagiaan di surga, maka bagaimana keindahan dan kebahagiaan itu juga dinikmati sekarang di dunia ini. Ya, surga tidak sebatas dunia cita-cita, tetapi nyata, musti menjadi realita sejak hidup di dunia, seberapapun hasilnya.

Karena surga itu sangat-sangat luas, maka keserbanikmatannya juga bisa dinikmati dan diakses oleh sebanyak-banyak hambaNya, bahkan termasuk makhluk di seluruh semesta, tentu menjadi tidak etis bila ingin membatasinya hanya untuk diri dan kaumnya saja yang merasakan surga, "membiarkan" yang lain di neraka.

Tentu, begitu juga halnya saat hidup di dunia. Kita berikhtiar memakmurkan bumi bersama-sama, sehingga merasakan kesejahteraannya bersama-sama, dan menikmati rasa bahagianya juga bersama-sama. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama