Muhasabah 1 Safar 1444
Amanah Kekhalifahan
Saudaraku, setelah diingatkan tentang kebermaknaan hidup selama sebulan Muharam kemarin, maka kini di bulan Safar ini halaqah dinihari melalui forum muhasabah ini akan membersamai mengingatkan kita tentang peran dan tanggung jawab dalam hidup dan kehidupan di dunia ini.
Untuk itu kita harus benar-benar menyadari bahwa keberadaan kita sebagai manusia dicipta oleh Allah, tentu tidak sia-sia. Bahkan dalam pandangan sufistik, manusia itu merupakan citra Ilahi. Inilah mengapa secara filosofis, manusia itu makhluk merupakan makhluk ciptaan yang paling sempurna merepresentasikan sifat-sifat Allah ketimbang makhluk selainnya. Oleh karenanya, manusia itu adalah khalifah di muka bumi.
Allah berfirman yang artinya Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Qs. Al-Baqarah 30)
Dengan perangkat diri yakni fisik, akal dan hati, manusia adalah makhluk satu-satunya yang menerima dan menyanggupi amanah dari Allah ta'ala. Allah berfirman yang artinya, Sesungguhnya Kami telah menyampaikan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS al-Ahzâb 72).
Bila kita cermati, maka peran kekhalifahan inilah amanah yang pertama sekali terpundak pada manusia. Dan dalam penunaian amanah kekhalifahan tidak lain dan tidak bukan, yakni dalam rangka mengabdi pada Ilahi. Dan ini memang tujuan diciptakannya manusia. Allah berfirman Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.(Qs. Al-Dzariat 56)
Saat di dunia, manusia tinggal mengenali diri dan mengetahui tugas berikut tanggungjawabnya dalam mengemban amanah kekhalifahan. Untuk inilah manusia dibekali potensi internal yang dengannya ketika diberdayakan, manusia dapat secara sukses memikulnya.
Potensi internal yang dimaksudkan adalah fisik, akal dan hati. Allah berfirman yang artinya Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (Qs. Al-Nahlu 78)
Tags:
Muhasabah Harian