Alarm Kebermaknaan Hidup

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 30 Muharam 1444

Alarm Kebermaknaan Hidup
Saudaraku, sudah selama Muharam ini forum muhasabah telah membersamai keberkahan halaqah dini hari kita, sekaligus mengingatkan tentang ragam agenda agar hidup menjadi lebih bermakna. Maka temanya selalu bicara tentang alarm pengingat diri yang lontuan simpulkan menjadi alarm kebermaknaan hidup, yang kini rangkumannya.

Agar hidup menjadi lebih bermakna, setidaknya kita telah diingatkan tentang pentingnya kebangkitan sebagaimana muhasabah yang pertama bulan ini. Kebangkitan menjadi keniscayaan bagi diri, institusi dan negeri ini bila ingin membangun peradaban. Dan ternyata kebangkitan merupakan di antara pilar modernisasi (muhasabah ke-2) yakni ikhtiar mengadaptasi dan menyongsong perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang amat akseleratif. Tentu dalam praktiknya dihajadkan kesungguhan dalam perjuangan mewujudkannya (muhasabah ke-3), sehingga hasil kemajuan dan kemenangan (muhasabah ke-4) serta lahirnya peradaban (muhasabah ke-5) menjadi niscaya.

Peradaban yang adiluhung senantiasa menampungi keragaman gagasan dan kemajemukan masyarakatnya, maka alarm moderasi (muhasabah ke-6) sebagai pilar peradaban penting telah mengingatkan kita akan sikap moderat sehingga dapat merahmati semesta.

Pilar peradaban berikutnya adalah transformasi (muhasabah ke-7) yakni perubahan menjadi lebih prospektif sehingga lebih eksis, tetapi tetap melakukan purifikasi (muhasabah ke-8) yakni ikhtiar mempertahankan jati diri yang sudah diuri-uri dijaga kebaikannya. Di samping itu, tentu juga harus selektif dan tabayun akan gerakan westernisasi, gelombang pembaratan (muhasabah ke-9),  dan sekulerisasi, pemilah-milahan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi (muhasabah ke-10).

Kesemua capaian kemuliaan yang telah diraih tentu harus ditransfer diwariskan oleh antar generasi (muhasabah ke-11),  sehingga tidak terjadi lost generation  atau ketaktersambungan generasi (muhasabah ke-12), dan terciptanya harmonisasi (muhasabah ke-13) antar elemen yang ada. Terhadap hal-hal yang bersifat pokok dan pundamental dilakukan revitalisasi, pemberdayaan dan penguatan kembali (muhasabah ke-14), sehingga serasi menyempurna saling mendukung satu sama lainnya (muhasabah ke-15).

Dari mana memulai hajat besar kebangunan umat dan peradaban tersebut? Tentu, dari setiap diri. Sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing melakukan ikhtiar sembari berdoa menjadi yang terbaik bagi diri, keluarga dan sesamanya. Dalam praktiknya, tentu juga penting melakukan relaksasi untuk menyeimbangkan (muhasabah ke-16), proses aktualisasi diri sehingga diterima oleh komunitasnya dan kontributif (muhasabah ke-17).

Inilah mengapa setiap pribadi musti meraih kemerdekaan diri (muhasabah ke-18) dari pengaruh asing (setan dan hawa nafsu) yang destruktif dan memproklamasikan atau menyatakannya dalam seluruh aktivitas dalam hidupnya (muhasabah ke-19). Hal ini rasanya perlu diafirmasi (muhasabah ke-20), partisipasi seluruh komponen anak negeri. (muhasabah ke-21)

Praktik baik dapat dimulai sejak sekarang oleh masing-masing diri. Secara praktis, sejak bangun tidur (muhasabah ke-22) dini hari hingga tidur kembali di malam hari dalam aktivitas yang bermakna di bawah keridhaan Allah ta'ala. Oleh karenanya kuta diingatkan bagaimana pola makan minum yang baik (muhasabah ke-23), berolah raga (muhasabah ke-24), dan aneka agenda yang mendukung (muhasabah ke-25).

Itu semua menghajadkan niat, komitmen, kebersediaan diri, tanggungjawab, dan "kehadiran" praktis dalam seluruh agenda kehidupannya (muhasabah ke-26), sehingga eksistensinya bebar-benar bermakna (muhasabah ke-27). Keberadaannya benar-benar memberi kebermanfataan bagi diri keluarga dan sesamanya. 

Begitulah seterusnya, ikhtiar dan doa dilakukan sepanjang hidupnya sejak mula hingga di usia tua (muhasabah ke-28). Terhadap hal-hal yang tidak disenangi oleh Allah kita segera bertaubat, taba ilallah. Artinya kita meninggalkannya dan bersegera kembali ke hal-hal yang diridhaiNya saja (muhasabah ke-29). Semoga kita benar-benar meraih kebermaknaan hidup (muhasabah ke-30). Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama