Alarm Transformasi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 7 Muharam 1444

Alarm Transformasi
Saudaraku, secara substantif saya yakin kita semua sepakat bahwa dalam menjalani hidup dalam kehidupan di dunia ini musti berproses menjadi lebih baik. Setiap diri dari hari ke hari idealnya ada perubahan ke arah yang lebih maslahah. Inilah tema yang melatari muhasabah hari ini sehingga diracik di bawah judul alarm transformasi. 

Sebagaimana bunyi alarm, maka tema ini sejatinya juga mengingatkan diri sendiri dan kita semua agar tidak stagnan, tetapi terus berdoa berikhtiar untuk berubah dan senantiasa berubah ke arah yang lebih baik. Apalagi justru inilah substansi hijrah sebagaimana dicontohkan oleh Nabi dan para sahabat. 

Ya perubahan ke arah yang lebih baik. Betapa Nabi dan para sahabat mulia telah membuka jalan memberi suri teladan kemuliaan. Nabi sejak menerima amanah kerasulan dan para sahabat sejak merengkuh Islam yang notabene menyalahi anutan kepercayaan nenek moyang yang sangat paganis, sudah meyakini sepenuh hati bahwa sinar kebenaran pasti akan dirasakan oleh masyarakatnya. Tetapi ketika kesadaran untuk berislam itu belum juga menyelimuti hati orang-orang kafir Quraisy, terutama para pembesarnya, maka ketika Nabi menangkap secercah asa dari belahan lain, yakni dari Yatsrib kemudian berhijrah ke sana.

Diketahui bahwa penduduk Yatsrib begitu heterogen tetapi mulanya saling bersaing dan berseteru, maka sejatinya mereka sudah begitu menantikan sang juru damai. Inilah mengapa, terjadi ketertarikan dan sumpah setia kepada Nabi dari serombongan demi serombongan orang Yatsrib yang berziarah ke Makkah, mereka menyaksikan betapa Nabi Muhammad saw dan ajarannya mengundang harapan besar untuk dapat menengahi dan menyelesaikan seluruh masalah yang mereka hadapi di Yatsrib. Dari sinilah, di antaranya pertimbangan mengapa kemudian Nabi memutuskan untuk hijrah ke Yatsrib.

Dan ternyata benar, di kemudian hari diketahui Islam menuai perkembangannya yang sangat hegemonis, bermula dari Yatsrib atau nama baru pembetian Nabi, Madinah al-Munawarah, kota yang benar-benar menerangi dan bersemi menembusi seluruh negeri. Oleh karenanya dapat disimpulkan bahwa hijrahnya Nabi dan sahabat merupakan hijrah transformatif. Hijrah yang mengusung perubahan ke arah yang lebih baik secara holistik.

Semangat hijrah transformatif yang dipraktikkan Nabi dan sahabat menjadi ibrah sejarah yang menawarkan inspirasi oleh antar generasi. Kini saatnya menyahuti agar kualitas diri terjadi trasformasi dan kualitas rasa bahagianya senantiasa dinikmati. 

Tidak saja hijrah makaniyah sebagai perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya yang lebih baik, tetapi juga hijrah substantif. Di antaranya, hijrah dari "kebadawiyan" yang sektarian darah dan daerah, kompetisinya tak sehat kepada "kemadanian" yang modern, humanistik, egaliter, profesional, sportif, berkeadilan, berkemajuan dan berkeadaban mulia di bawah keridhaan Allah ta'ala. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama