Alarm Taubat

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 29 Muharam 1444

Alarm Taubat
Saudaraku, hari di ujung bulan Muharam ini rasanya penting bagi kita mengingat kembali tentang pertaubatan. Maka mengapa muhasabah hari ini diberi judul alarm taubat. 

Taubat itu sendiri sejatinya bermakna taba ilallah yang kita sering kita pahami kembali ke (jalan atau ridha) Allah. Bila sebelumnya jauh dari (jalan) Allah atau berpaling dari (ridha) Allah lantaran berbagai hal, maka bertaubat taba ilallah dengan kembali ke jalan atau ridhaNya. 

Dengan demikian setelah diingatkan tentang usia tua sebagaimana pesan moral muhasabah yang baru lalu, maka bahasan tentang kesudahannya menjadi niscaya. Tentang apa? Ya benar, yakni tentang kembali ke haribaanNya. Maka sinkron dengan makna taubat. Tetapi harus buru-buru diberi anotasi bahwa taubat tidak hanya ketika diri sudah tua. Taubat sebaiknya dilakukan sesegera mungkin, apatah lagi di saat diri sudah tua.

Tentu, taubat di sini sangat-sangat luas pemaknaannya, termasuk juga hijrah. Ya hijrah substantif, yakni meninggalkan segala sesuatu yang tidak disenangi (oleh Allah) menuju kepada segala sesuatu yang disenangi, yang diinginkan, yang "diridhai" oleh Allah.

Misalnya bertaubat bagi yang masih berbuat di antara M5 (maling, main, minum, madat, madon = mencuri, berjudi, mabuk-mabukan, mengonsumsi nafza atau ganja, berzina). Karena perbuatan ini tidak disenangi oleh syariat, maka bersegera bertaubat dengan hijrah atau meninggalkan perbuatan itu menuju perbuatan yang baik-baik, seperti bekerja, berniaga, mengonsumsi makanan minuman yang halalan thayiban juga tidak israf, berolahraga dan berkeluarga/ menikah. 

Bagi yang masih mengerjakan shalat fardhu yang lima secara sporadis dan asal-asalan, lalu bertaubat. Penunaian shalat yang sporadis dan asal-asalan tentu kurang sempurna, maka tidak disenangi oleh agama lalu bertaubat dari penunaian shalat seperti itu seraya memperbaiki pelaksanaannya, menjadi shalat yang lebih istikamah dan serius. Bagi yang shalat fardhunya masih sering sendiri, maka diperbaiki ditingkatkan kualitasnya, di antaranya dengan penunaian shalat secara berjamaah.

Lebih tinggi lagi, bagi yang belum mengerjakan shalat tahajud, witir, berdzikir dan tilawah, shalat dhuha, shalat rawatib, berpuasa sunah, bersedekah dan dalam kondisi suci memiliki air wudhuk sudah bisa memulai mencoba dan mendawamkannya sehingga merasakan manisnya iman. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama