Muhasabah 28 Muharam 1444
Alarm Menua
Saudaraku, alarm ini sejatinya tidak perlu distel untuk dibunyikan terutama bagi yang seusia dengan Lontuan, apalagi di atasnya. Mengapa? Ya, karena tanda, rasa dan saatnya sudah sangat jelas. Tetapi karena yang namanya manusia, kitapun sering lupa atau tidak disadarinya, maka sesekali juga perlu diingatkan, setidaknya untuk diri sendiri.
Berbagai keadaan dan ragam kondisi yang dialami idealnya menjadi alarm yang mengingatkan bahwa diri ini tak muda lagi, tak setampan dulu, tak secantik dulu lagi dan tentu tak sekuat dulu. Peran sesepuh dan atau tanggungjawab sebagai orangtua, kini sudah berangsur melekat, kita mewarisinya, seiring dengan wafatnya satu persatu generasi ayah dan ibu kita. Bahkan sudah ada di antara teman seangkatan kita yang kini sudah mendahului pulang ke haribaan Allah ta'ala. Suatu saat nanti seandainya reuni kita tidak bertanya lagi "berapa orang yang sudah meninggal di antara kita?" tetapi bertanya "berapa orang yang masih tinggal?"
Saat beranjak ke mana-mana dan di mana saja kita sudah dipanggil mbah atau kakek atau nenek atau eyang atau yang rada halus dengan sapaan senior atau sapaan yang serapah "sudah bau tanah".
Kondisi fisik lahiriyah malah lebih terasa. Bisa jadi wajah kita tak segar lagi karena sudah cenderung kerut dan keriput; mata meski masih tetap dua, tapi pandangannya sudah membayang bahkan juga buram. Kepala bila tidak botak karena rambutnya rontok, maka sudah beruban atau berubah warna kusam dan memutih. Pendengaran sudah harus ditambahi dengan alat penangkap suara agar masih tetap mendengar suara atau panggilan sang cucu. Postur tubuh, sering tak seimbang lagi, ada yang terlampau kurus tapi juga ada yang obesitas. Bila berjalan mesti ekstra hati-hati agar tak terjerembab, sehingga keluarga biasanya ada yang membantu memapahnya.
Idealnya semua itu sudah sangat memadahi untuk menghadirkan kesadaran akan usia tua, sehingga menjadi lebih bijak bersikap dan lebih hati-hati seraya menyiapkan bekal yang akan dibawa saat pulang nanti.
Panjang pendeknya usia, memang tak bisa ditolak karena menjadi hak prerogatif Allah zat yang maha mencipta dan menentukan bagi masing-masing orang, tetapi keberkahan tidaknya menjadi ranahnya hamba.
Bila panjang pendeknya usia sudah diatur dan ditentukan, maka keberkahan usia dapat dilakukan dengan cara memaknainya, yakni melipatgandakan isinya dengan meningkatkan ketinggian akhlak, kedalaman ilmu dan hikmahnya yang mencakrawala. Makanya ada orang yang usianya melebihi 1000 bulan, lalu ketinggian akhlaknya menjulang, kedalaman ilmu, dan keluasan hikmahnya membentang samudra, niscaya keberkahannya menjadi tak terbilang (unlimited) karenanya.
Untuk membantu memahami kenyataan ini, coba dikalkukasi sendiri. Panjang usia 1000 x tinggi ... x lebar ...maka hasilnya menjadi unlimited. Oleh karenanya di usia yang semakin menua yang bisa jadi tak banyak waktu tersisa, maka sudah saatnya kesadaran itu tiba. Berbenah dengan segera, menjemput karunia Allah yang tak terkira agar berbahagia di sini apalagi di sana. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian