Alarm Sekulerisasi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 10 Muharam 1444

Alarm Sekurelisasi
Saudaraku, alarm kehidupan yang juga terus mengingatkan kita adalah sekularisasi, sehingga muhasabah hari ini diberi judul alarm sekulerisasi. Sekuler merujuk pada hal-hal yang bersifat duniawiyah atau kebendaan, tidak bersifat keagamaan atau kerohanian, dan sasi berati gerakan. Jadi seperti yang disebut di wikipedia bahwa sekulerisasi dimaksudkan sebagai apapun yang membawa ke arah kehidupan duniawiyah dan tidak didasarkan pada ajaran agama. Jadi urusan duniawiyah ya urusan duniawiyah tidak ada kaitannya dengan urusan agama.

Coba bayangkan, bagaimana jadinya bila apapun yang dipikirkan dan dilakukan tidak lagi didasarkan pada ajaran agama? Coba renungkan ketika agama tidak lagi menasihati, tidak lagi menyuruh pada makruf mencegah yang munkar, dan tidak lagi memberi rasa aman?

Inilah, sejatinya sekulerisasi harusnya hanya terjadi di dunia barat yang non muslim. Karena sejarahnya memang begitu. Urusan dunia ya dunia, urusan agama ya agama; tidak dicampur aduk. Makanya sekularisasi mengarah pada keyakinan bahwa ketika masyarakat barat  "berkembang", terutama melalui modernisasi dan rasionalisasi, agama kehilangan kekuasaannya di semua aspek kehidupan sosial dan pemerintahan. 

Dengan pemaknaan seperti itu, maka sekulerisasi harusnya tidak terjadi di dunia Islam, di kehidupan orang mukmin. Karena dalam Islam mengajarkan bahwa segala yang ada, apapun yang dipikirkan dan yang dilakukan  harus didasarkan pada agama (Islam), dan tidak boleh tidak. Malah harus sejak dari niat sekalipun. Pemilahan urusan antara yang duniawi dan ukhrawi, antara negara dan Islam mungkin bisa dibedakan, tetapi tidak bisa dipisahkan. Keduanya satu paket yang sistemik, seperti dua sisi mata uang. Termasuk hidup berbahagia juga berlangsung di dunia dan di akhirat.

Ketika kita belajar, maka ya agar cerdas sehingga dapat mengenal Allah Rabbnya dan menyembahNya. Di saat bekerja, maka kitapun sudah meniatkan untuk ibadah, sehingga pekerjaan kita itu berkah memberkahi. Di saat berkeluarga, maka kitapun berniat karena Allah untuk mengikuti sunah NabiNya, meneruskan keturunan, dan memelihara kehormatan. Dan seterusnya, jadi memikirkan dan mengerjakan apapun tentang urusan dunia tetap saja muaranya pada ajaran Islam.

Sebaliknya, saat berniat dan mengerjakan shalat, maka kita sudah mempersiapkan segalanya termasuk hal-hal yang bersifat duniawiyah sekalipun. Di antaranya berwudhu dengan air, airpun kita hidupkan melalui kran, setelah mesin sanyonya memompa air sehingga sampai di kamar atau tenpat berwudhu. Kita juga mengenakan pakaian pantas yang kain dan kebersihan juga wewangian aromanya terjamin. Artinya di antara umat Islam musti ada yang menanam kapas (petani) atau memintalnya menjadi benang atau merajutnya (pabrik konveksi, garmen), menjahit, mencuci, menyerita dan seterusnya.

Setelah selesai urusan pakaian yang dikenakan saat shalat yang juga harus bersih, suci, wangi dan indah, kita juga shalat dengan menghadap kiblat. Ya kalau di masjid, atau rumah yang kiblatnya sudah diketahui, tapi bila   tempat yang tidak lazim, maka kita juga memerlukan kompas, penunjuk arah.

Setelah semuanya selesai, kita baru dapat mengerjakan shalat dengan khusyuk dengan catatan kesehatan kita sedang prima. Artinya diperlukan juga dokter, ahli kesehatan, obat-obatan. Coba padahal judulnya "shalat" (urusan ukhrawi) tadi kan? Dalam praktiknya sudah memerlukan segala yang berkaitan urusan duniawi yang amat kompleks. Oleh karena itu tidak mungkin kita memisahkan antara urusan duniawi dan ukhrawi, apalagi mengesampingkan salah satu di antaranya. Semoga

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama