Alarm Regenerasi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 11 Muharam 1444

Alarm Regenerasi
Saudaraku, disadari atau tidak, realitasnya hari demi hari berganti, pekan berjalan mengejar bulan, bulan berganti tahun kini muharam yang tahunnya pun sudah berbilang ribuan, empat ratusan plus enpatpuluhan. Seiring denganya, tak terasa dan tak diduga jua, peran pun musti bergulir gumanti, anak harus bersiap menerima dan mengemban peran yang sebelumnya terpundak pada orangtua. Orangtua saatnya melepas mengikhlaskan apapun yang sejak mula dikumpulkannya, kecuali ilmu, anak shalih dan amal jariyah yang akan memandunya sowan ke haribaanNya suatu saat ketika tiba.

Ilustrasi di atas harusnya sudah membangunkan kita persis seperti alarm yang terus menerus berbunyi mengingatkan kita agar bersiap. Ya inilah di antara alarm kehidupan. Oleh karenanya ijinkan lontuan meracik tema muhasabah hari ini dengan memberi judul alarm regenerasi.  

Dalam konteks ini, di samping dipahami sebagai proses penggantian generasi tua kepada generasi muda atau peremajaan, regenerasi juga dipahami sebagai pembaharuan semangat dan tata susila. Sebagaimana semangat pembaharuan juga perubahan, maka regenerasi juga menghendaki suasana baru, ide pemikiran baru dan kiprah baru, dari orang-orang - berjiwa - muda meskipun tetap harus melestarikan atau meneruskan praktik baik yang sudah menjadi tatanan kemuliaan sebelumnya. 

Bila meminjam analisis filsafat perenealisme, maka regenerasi berperan sebagai penerus yang akan memastikan atau menjamin nilai-nilai kebaikan yang abadi senantiasa dikaji diimplemetasi dalam kehidupan praktis srhari-hari. Tetapi hal ini juga musti dipadu dengan analisis konstruktivistik dan progresifistik terutama pada pranata yang kurang relevan, sehingga seluruh elemen dan unsurnya dapat berpartisipasi aktif menjangkau masa depan yang lebih gemilang.

Secara kontekstual, bila dihubungkan dengan hijrah, maka ternyata ada hijrah waktu yang terus berganti dan tak terulang lagi. Dan dalam pergantian waktu ke waktu tentu harus berpacu berfastabiqul khairat dalam kebaikan demi kebaikan sehingga terus menerus menuai maslahah demi maslahah yang lebih besar.

Di samping hijrah waktu, juga hijrah substantif berupa peran dan tanggungjawab yang selalu gilir gumanti dari satu generasi ke generasi berikutnya. Generasi awal musti ikhlas atau legowo melepas peran dan tanggungjawab kepada generasi berikutnya yang telah dididik dan dipersiapkan untuk memegang mengendalikan zamannya. Sebaliknya generasi baru musti santun mewarisi amanah sembari mengapresiasi praktk baik yang sudah jadi dan membarui pranata muamalah dan sosial menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan demikian dalam praktiknya regenerasi terpundak amanah meneruskan dan amanah membaharui pada para pihak yang layak dan berhak mengembannya. Semoga. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama