Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 12 Muharam 1444
Alarm Lost Generation
Saudaraku, dalam halaqah muhasabah ini lima tahun yang silam saya pernah menulis tentang mewaspadai lost generation. Kini agaknya tidak cukup mewaspadai, tetapi sudah lebih dari itu; ya mencegah, ya menghentikan dan memberbaiki keadaan. Inilah momentum hijrah, yang sesungguhnya.
Adalah sangat miris membaca bagaimana postingan bahwa Aceh darurat narkoba. Selama ini Aceh dijuluki Negeri Serambi Makkah, Nanggroe Syariat, surganya penikmat kopi atau lainnya tapi tetap oke-oke saja. Tetapi ketika disebut darurat narkoba, maka harusnya terhenyah. Karena ini menjadi di antara asbab terjadinya lost generation, generasi yang hilang; generasi anak-anak manusia yang tidak mendapati lingkungan dan pendidikan yang kondusif.
Nah, coba bayangkan lost generation bisa terjadi di antaranya disebabkan oleh lingkungan yang tidak kondusif untuk pendidikannya. Di antaranya karena lingkungan telah rusak atau dirusak oleh "oknum" dengan narkoba juga seks bebas, lingkungan yang serba permisif serba boleh, bantuan kegiatan keagaman dari toke sabu-sabu dianggap sudah biasa, ngeganja di mana-mana sudah lumrah dan adanya perbuatan asusila lainnya. Untuk narkoba saja, Aceh kini disinyalir sudah menduduki enam besar nasional. Lalu mau jadi apa anak-anak kita di negeri ini? Apalagi di tanah air, negeri ini sebagai satu-satunya negeri bersyariat.
Istilah lost generation itu sendiri awalnya sebenarnya ditujukan untuk kelompok sosial yang mengalami kebingungan dan kehilangan arah pada awal pasca Perang Dunia I. Tetapi sekarang, kebingunan dan kehilangan arah itu juga terjadi. Istilah lost generation agaknya kini juga berpulang pada kenyataan orang tua bingung, para pendidik tak tahu arah, para pengambil kebijakan cuek, dan anak-anak bingung bin linglung akibat ngrokok, nyabu dan nyandu.
Nah, kini alarm lost generation sejatinya bukan saja berbunyi mengingatkan, tetapi sudah meraung-raung menjadi sirine yang membangunkan kesadaran komunal, kesadaran jama''i, sehingga masing-masing orang secara profosional dan profesional mengambil langkah seribu untuk menghentikan segala anasir yang dapat menjurus terjadinya lost generation.
Siapa yang musti ambil peran dalam amanah ini? Ya, semua. Semua elemen bangsa ini, (saya sebut beberapa yang ingat) ya orangtua, guru, dosen, teungku dayah, khatib, penceramah, mahasiswa, pelajar, pekerja/buruh, pedagang, polisi, tentara, aparat atau pemerintahan gampong mukim kecamatan dan provinsi serta negeri ini.
Bila ada yang nyabu atau geganja atau makai, atau kecil-kecil sudah mulai paas-puus ngrokok, maka mari dicegah dengan tangan, atau nasihat atau laporkan pada pihak yang berwajib (orangtuanya dan atau polisi). Jangan sampai berpendapat "tokh bukan anak saya, bukan adik saya, bukan siapa-siapa saya." Ya, hari ini mungkin benar bukan bagian keluarga kita, tetapi lusa dan seterusnya belum tentu; bisa jadi sudah menyeret orang-orang terdekat yang amat kita cintai.
Ketika adzan berkumandang, tetapi masih ada saja yang bermain-main, gelar rapat, nongkrong bercengkrama di cafe-cafe atau di gardu, kita sarankan mereka untuk pulang ke kediaman masing-masing atau kita ajak untuk segera shalat.
Bila ada yang berolahraga tapi mengumbar auratnya, seperti saat gowes atau senam atau bola volly atau olahraga lainnya, mari diedukasi agar lebih estetik tapi juga lebih etik dalam berpenampilan dan berperilaku. Jangan sampai tujuannya baik yakni agar sehat bugar badan, tetapi dilakukan dengan menyalahi syariat.
Jika ada remaja yang kebut-kebutan di jalan raya, maka sebaiknya segera laporkan ke polisi agar ditertibkan dan diamankan. Meski adu balapannya di malam hari, maka tetap saja mengganggu, di samping membahayakan diri dan sesamanya.
Kalau saatnya istirahat di malam hari, tetapi masih ada hiburan yang glamor memekakkan pendengaran di telinga, maka mari kita datangi kita nasihati baik-baik agar mereka juga tahu diri dan memenuhi hak ketenangan sesamanya.
Mari saling asah asih dan asuh sehingga tidak terjadi lost generation. Seandainya sudah terjadi, semoga momentum hijrah menyemangati kita semua untuk memperbaiki. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian